Title       : Han Je Yoo is mine!

Author  : Clarissa Tisha a.k.a Han Je Yoo

Genre   : Fluff, Romance

Rating   : PG 13

Main casts           :

-          Han Je Yoo a.k.a J

-          Park Jung Soo a.k.a Leeteuk

-          Kwon Ji Yong a.k.a G-Dragon

OC          :

-          10 Super Junior members (kalo 15 kebanyakan =.=)

-          All Bigbang members

-          All Dong Bang Shin Ki members

-          Shin Ji Kyu dan Lee Jin Ki

 

“Lalu Leeteuk oppa akan berkata ‘Han Je Yoo is mine!’”

“’Ne, oppa…’ kataku.”

“’Andwae! Han Je Yoo is mine!’ seru G-Dragon oppa sambil menarik tanganku.”

“Yes, oppa. I’m yours.”

BLETAK!!

Ji Kyu memukul kepala Je Yoo dengan penggaris 1 meter yang merupakan penggaris milik kelas mereka.

“Aawww! Sakit, Ji Kyu-ya!” Je Yoo berseru pada temannya yang bernama Ji Kyu, pipinya digembungkan dan menatap Ji Kyu dengan kesal.

“Kau ini, sudah siang bolong masih saja bermimpi. Bangunlah, J! Ireona!” Ji Kyu mengguncang tubuh Je Yoo yang menelungkupkan kedua tangannya di atas meja.

“Ya! Aku sudah bangun, Ji Kyu-ya!” Je Yoo duduk tegak kali ini, lalu berbalik memandang Ji Kyu. Istirahat siang itu mereka habiskan dengan makan bekal di kelas saja, mereka sedang malas ke luar atau hanya sekedar ke kantin.

“Ji Kyu-ya, apa kau pernah membayangkan, bagaimana rasanya diperebutkan kedua orang itu? Ah… aku pasti bingung memilih yang mana!” Je Yoo menangkupkan kedua telapak tangannya di pipinya sambil menerawang membayangkan hal yang sangat diinginkannya itu.

“Sudahlah, jangan membayangkan yang tidak-tidak! Mereka tak mungkin memperebutkan dirimu. Apalagi mereka bermusuhan, pasti masing-masing punya selera sendiri. Lagipula kau tidak takut apa dengan kedua preman sekolah itu?” Ji Kyu bergidik hanya membayangkannya saja.

“Mereka bukan preman sekolah! Hanya orang-orang yang terlalu senang bermain-main.” Je Yoo tersenyum.

Di Neul Param High School, tempat mereka bersekolah, ada dua kelompok yang berkuasa di sekolah mereka. Dan kedua kelompok itu saling bersaing satu sama lain. Yang satu bernama Super Junior, grup beranggotakan 10 orang yang diketuai oleh Leeteuk, dan yang satu lagi bernama Bigbang, grup yang beranggotakan 5 orang yang diketuai oleh G-Dragon. Dalam hal apapun mereka selalu bersaing. Kedua leader grup masing-masing sangat ditakuti dan disegani oleh seluruh murid dan guru di Neul Param High School.

 

“Hyung, mereka mengambil alih atap sekolah!” lapor lelaki bernama Seungri pada leader grup mereka, G-Dragon.

“Mwo? Berani-beraninya mereka!” G-Dragon tampak geram.

Atap sekolah, sebelumnya dikuasai oleh kelompok yang juga sangat berkuasa di sekolah, Dong Bang Shin Ki, namun mereka sudah lulus semua. Dulu Super Junior dan Bigbang pun takluk terhadap DBSK, namun sekarang kekuasaan diperebutkan Super Junior dan Bigbang.

“Mereka cepat juga bertindak!” sahut T.O.P. Kebetulan mereka baru kenaikan kelas, dan DBSK baru lulus, ternyata kekuasaan atap sekolah sudah di ambil alih di hari pertama sekolah. Hal ini jelas membuat member Bigbang terutama leader mereka, G-Dragon, kesal.

“Kita harus melakukan sesuatu, G! Kita serang mereka sekarang!” ujar Taeyang.

“Andwae. Jangan serang pakai fisik, jumlah mereka 2 kali lipat dari kita.”

“Tapi kita mungkin lebih kuat dari mereka.” Dae Sung berkomentar.

“Andwae… andwae… jangan gegabah. Kita serang… pakai ini…” G-Dragon menunjuk ke kepalanya, memaksudkan bahwa mereka harus menyerang dengan ‘otak’.

“Kurasa… aku punya sebuah ide.” ujar T.O.P setelah beberapa lama mereka terdiam.

 

“Dengan bergerak seperti ini, nampaknya Bigbang marah pada kita,” ujar Si Won saat seluruh member Super Junior berkumpul di atap sekolah.

“Itu pasti. Maka dari itu, semua harus berhati-hati. Mereka pasti akan membalas kita.” sahut sang leader, Leeteuk.

 

“Leeteuk oppa… G-Dragon oppa… Leeteuk oppa… G-Dragon oppa… Leeteuk oppa… G-Dragon oppa… Leeteuk… Ah! Leeteuk oppa!” Je Yoo mengambil bunga matahari kecil dan memetik satu-satu mahkota bunganya. Dan petikan terakhir jatuh pada nama ‘Leeteuk’. *ala AADC lah*

Lalu Je Yoo mengambil bunga yang lain dan melakukan hal yang sama. “Ah… kali ini G-Dragon oppa… Ji Kyu-ya, eotteohke?”

“Huh… seperti mereka mau padamu saja, J!” seru Ji Kyu. “Cobalah dekati salah satu dari mereka, yaaa… itupun kalau kau sudah tidak sayang lagi pada nyawamu…” Ji Kyu menambahkan.

“Kau ini, memangnya kau pikir mereka seseram itu?” tanya Je Yoo, lagi-lagi Je Yoo menggembungkan pipinya, ia memang senang melakukan hal itu.

“Ne. Mereka menyeramkan. Aku lebih baik dengan namja seperti Jin Ki, baik, lembut, pintar, tampan. Ah…” Ji Kyu membayangkan pangerannya yang bernama Lee Jin Ki itu.

“Nah, kau dekati dia dong… Kan katamu Jin Ki tidak menyeramkan, bukankah lebih mudah didekati?”

“Itu dia… temannya yang bernama Ki Bum yang sering bersamanya itu terlihat sangat menyeramkan. Dia selalu memandang sinis terhadapku. Padahal aku tak tahu salahku apa padanya. Kenal saja tidak…” raut muka Ji Kyu terlihat sedikit sedih.

Tiba-tiba Ahn Chil Hyun sonsaengnim memasuki kelas mereka, karena pelajaran Kimia akan segera dimulai. Ji Kyu dan Je Yoo pun kembali ke tempat duduk masing-masing.

 

A week later.

Turururuut~ *bunyi SMS*

Je Yoo membuka flip ponsel Lollipop-nya, ia tengah berjalan hendak pulang ke rumah.

“Mwo? Membeli jangka? Ji Kyu ada-ada saja ah…”

Je Yoo mendapat SMS dari Ji Kyu untuk membelikannya sebuah jangka untuk pelajaran Matematika besok. Hari itu Ji Kyu memang sedang ada kegiatan ekstrakurikuler sampai sore, dia ikut klub memasak, jadi mungkin tidak sempat membeli jangka untuk besok. Akhirnya Je Yoo berbalik arah.

Toko buku langganan Je Yoo tinggal beberapa meter lagi di depannya, tetapi tiba-tiba seseorang terjatuh di depannya. Sepertinya barusan ada yang menabraknya tidak sengaja membuat namja itu terjatuh. Je Yoo terkejut bukan main begitu melihat namja yang terjatuh itu. Leeteuk, leader Super Junior.

Dengan mengerahkan segala keberaniannya, Je Yoo mengulurkan tangannya. Namja itu mendongak menatapnya curiga. Je Yoo berusaha tersenyum, meyakinkan dirinya bukan orang jahat. Leeteuk pun meraih tangan Je Yoo, dan berdiri.

“Ah! Lututmu berdarah,” ujar Je Yoo.

Saat itu Leeteuk memakai celana jeans selutut, dan hoodie putih juga beanie putih. Jadi cukup terlihat luka akibat membentur trotoar jalan itu.

“Gwaenchasseumnida,” sahut Leeteuk.

“Biar kuobati saja, kebetulan aku membawa…” Je Yoo mengubek isi tasnya, “ini.” Je Yoo mengangkat sebuah kotak P3K sambil tersenyum lebar.

Leeteuk membelalak, seorang gadis membawa kotak P3K kemana-mana? Baru kali ini ia melihatnya.

“Eh… ah… ye.” Je Yoo membantu Leeteuk duduk di kursi semen yang tak jauh dari tempat itu.

Mimpi apa Je Yoo semalam sehingga hari ini ia bisa bertemu, mengobrol, bahkan mengobati luka Leeteuk yang tak seberapa itu?

Je Yoo membuka kotak P3K-nya, pertama-tama dia mengeluarkan sebotol alkohol dan mengambil sejumput (?) kapas. Perlahan Je Yoo mengusap-usapkan kapas yang sudah dibasahi alcohol itu ke luka Leeteuk.

Leeteuk hanya diam memperhatikan yeoja yang sedang mengobatinya itu. Luka seperti ini tak seberapa bagi Leeteuk yang sudah biasa berkelahi, tapi baru kali ini ada seorang yeoja yang sangat perhatian padanya sampai luka kecil ini pun ia ingin mengobatinya.

“Sudah,” ucapan Je Yoo menyadarkan Leeteuk yang pikirannya sempat terbang kemana-mana. Ia menatap lututnya. Kini di lututnya yang terluka tadi, ditempeli plester berwarna pink dengan gambar-gambar hati berwarna merah. Lagi-lagi Leeteuk membelalak. Dirinya, yang terkenal garang seantero sekolah, memakai plester menjijikan macam itu? Apa kata dunia? *hehe*

Leeteuk memandang Je Yoo ragu, mau protes tapi rasanya tidak enak. Padahal dia biasa juga bicara ceplas-ceplos, ia heran sendiri mengapa kali ini jadi sulit sekali bicara?

“Jwisonghamnida sunbaenim, hanya ada plester itu saja, hehe…” Je Yoo tersenyum lebar.

Entah mengapa Leeteuk merasa silau saat melihat senyuman itu, mungkin karena Je Yoo duduk membelakangi matahari yang sedang bersinar terik sekali, jadi ia silau saat melihat Je Yoo. Tapi anehnya, sejak kapan silau matahari itu bisa membuat dadanya berdebar-debar dan membuat lidahnya kelu, ditambah ternggorokannya tercekat tak mampu mengeluarkan sepatah katapun?

“Ah… ye…”

Je Yoo sudah cemas, takut Leeteuk marah besar karena hal itu. Tapi nyatanya Leeteuk malah menerimanya begitu saja, itu membuatnya senang dan tak bisa berhenti tersenyum.

“Kau… murid Neul Param High School kan?” tanya Leeteuk tiba-tiba. Ia memang mengetahuinya dari seragam yang dipakai Je Yoo, blazer biru tua dan rok berwarna abu-abu. Seragam yang sama dengannya.

“Ne, sunbaenim juga kan?” meskipun tidak memakai seragam, Je Yoo jelas tahu siapa namja di depannya, idolanya di sekolah.

“Hm,” jawabnya singkat. “Kau tahu aku?” tanya Leeteuk.

Je Yoo mengangguk, “Siapa yang tidak tahu dengan Leeteuk sunbaenim?” Je Yoo tersenyum.

“Kau… tidak takut denganku?” Leeteuk sebenarnya cukup senang ada orang yang menanggapi dirinya dengan tangan terbuka seperti ini, biasanya setiap orang yang ditemuinya selalu malas berurusan dengannya.

“Animnida. Sunbaenim tidak akan melakukan apa-apa padaku, kan?” mata Je Yoo membulat, membuat Leeteuk tak mampu menahan senyumnya.

“Ani.” Ujar Leeteuk lembut.

Je Yoo tiba-tiba menunduk, ia merasa gugup sekarang. Benar-benar tak bisa dipercaya, dia bisa mengobrol dengan seorang Leeteuk?? Betapa beruntungnya dia hari ini.

“Kau ada waktu sekarang?” tanya Leeteuk.

“Ye?”

“Kalau… kalau kau ada waktu… maukah kau… denganku… ke… kafe itu?” tanya Leeteuk. Hanya pertanyaan sesimpel ini, entah mengapa sulit sekali ditanyakan.

Je Yoo memandang Leeteuk tak mengerti. “Ah, kalau tidak bisa juga tak apa, gwaenchana…” ujar Leeteuk tiba-tiba.

“Animnida. Aku ada waktu kok,” Je Yoo tersenyum.

“Jeongmal?” Leeteuk tersenyum senang.

 

Di kafe yang tak begitu jauh dari tempat tersebut, mereka memesan menu kesukaan masing-masing. Je Yoo memesan eskrim caramel, sedangkan Leeteuk memesan French Coffee. Mereka mengobrol dengan santai di sana.

Je Yoo benar-benar tak menyangka semua berjalan seperti ini.

“Kau kelas berapa?” tanya Leeteuk.

“2 IPA 3,” jawab Je Yoo. Ia merasa tak perlu menanyakan kelas Leeteuk karena ia sudah tahu banyak hal tentang Leeteuk.

Leeteuk melihat jam tangan putihnya, “ah, aku harus pergi sekarang, mianhae.” Leeteuk bangkit dari kursinya.

“Ne, gwaenchanayo, sunbaenim. Gomapseumnida, untuk eskrimnya,” Je Yoo tersenyum. Leeteuk memang mengatakan akan mentraktir Je Yoo.

“Err… jangan panggil ‘sunbaenim’…” pinta Leeteuk.

“Oh… sunbae?” tanya Je Yoo.

“Err…” Leeteuk masih ragu.

“Oppa?”

Leeteuk berusaha menyembunyikan rasa senangnya, tapi akhirnya ia tersenyum juga. “Boleh,”

“Oh ya, ponselmu,” Leeteuk mengadahkan tangannya di depan Je Yoo.

Je Yoo terkejut, aku dipalak? Omo~ eotteohkaji? Pikiran-pikiran negatif berkelebat di otaknya.

“Ayo berikan,” Leeteuk nampaknya sudah tidak sabar.

Je Yoo tak menyangka, kebersamaannya yang indah dengan seorang Leeteuk harus dibayar dengan sebuah ponsel. Takut-takut, Je Yoo menyerahkannya.

Leeteuk membuka flip ponsel Je Yoo, mengetikkan sesuatu di sana. Lalu mengembalikannya pada Je Yoo. Je Yoo heran tapi akhirnya ia membawanya.

“Aku pergi dulu, kalau ada apa-apa telepon saja. Speed dial nomor 1, jam berapapun aku akan mengangkatnya,” Leeteuk tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Jalga,”

Leeteuk lalu pergi begitu saja, meninggalkan Je Yoo yang terdiam mematung sambil memegang ponselnya di dadanya. “Apa yang terjadi?” tanyanya dengan pandangan kosong menerawang.

Je Yoo lalu memeriksa ponselnya, benar saja, orang itu tanpa permisi membuat nomor dirinya jadi speed dial nomor 1 di ponsel Je Yoo. Tapi Je Yoo hanya tersenyum, “dasar, maunya jadi special saja,” gumam Je Yoo sambil tersenyum.

 

Besoknya…

“Sebenarnya apa yang kau lihat, Han Je Yoo?” Ji Kyu heran melihat kelakuan temannya, pagi-pagi sudah menatap layar ponsel dengan senyum-senyum sendiri. Sungguh suatu tingkah penuh ketidakjelasan. (?)

“Speed dial nomor 1,” Je Yoo memamerkan ponselnya pada Ji Kyu, “Leeteuk,” Je Yoo tersenyum.

“Jadi sekarang sudah menentukan pilihan?” tanya Ji Kyu.

“Ada Han Je Yoo?” panggilan yang cukup keras di pintu kelasnya mengagetkan kedua yeoja yang sedang mengobrol itu.

“Omo~ Leeteuk, J! J, ada dia!” Ji Kyu mengguncang tubuh Je Yoo sambil berseru dalam suara kecil.

“Ne, oppa!”

“Mwo? Kau…” omongan Ji Kyu terhenti karena Je Yoo memberi isyarat padanya untuk diam, sementara Je Yoo keluar kelas.

“Annyeong,” sapa Leeteuk.

“A-annyeong… oppa,” Je Yoo tersenyum. “Oppa…”

“Ne, waeyo?”

“Bolehkah… bolehkah aku memanggilmu ‘Jung Soo oppa’?” tanya Je Yoo, ia sedikit takut Leeteuk tak mau dipanggil dengan nama aslinya.

“Oh… tentu.” Leeteuk tersenyum.

“Gomawo,” Je Yoo tersenyum.

“Err… Han Je Yoo, maukah kau jadi pacarku?” tanya Leeteuk.

“Ehh??” Pertanyaan itu jelas membuat Je Yoo kaget setengah mati.

Leeteuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Pertanyaanku sudah jelas. Aku menyukaimu dan ingin kau jadi pacarku. Kau tak perlu takut, aku akan melindungimu dengan segenap nyawaku. Sudah ya, kutunggu jawabannya pulang sekolah, okay?” Leeteuk sepertinya buru-buru, entah masih banyak urusan atau terlalu gugup di depan Je Yoo.

Chu~

Tiba-tiba Leeteuk mendaratkan bibirnya di pipi Je Yoo. Je Yoo memegang pipi kiri yang barusan dikecup Leeteuk.

“Pulang sekolah ya!” seru Leeteuk sambil berlari menjauh.

Je Yoo bersandar ke dinding sambil memegang pipinya, matanya menerawang masih membayangkan kejadian tadi.

“Han Je Yoo! Ayo masuk ke kelas!” seru Ahn Chil Hyun sonsaengnim.

Tapi Je Yoo masih tersenyum sambil memegang pipinya.

“Han Je Yoo!”

“Ne… sonsaengnim?” matanya masih memandang kosong dan menerawang.

“Masuk kelas!” kali ini Ahn sonsaeng bicara dengan nada lebih tinggi.

“Ne… sonsaengnim, eotteohkaji?” Je Yoo nampaknya belum sadar dari mimpinya. Ia benar-benar bingung harus menjawab apa atas pertanyaan Leeteuk tadi.

“Eotteohkaji??? Sekarang kau masuk kelas dan duduk di bangkumu!!”

“Eh? Ye sonsaengnim!!” Je Yoo berdiri tegak dan menghormat pada Ahn sonsaengnim. Tak lupa tersenyum lebar agar sonsaengnim bisa memakluminya. Ya, begitulah remaja sedang jatuh cinta.

 

Jam istirahat, terpaksa Je Yoo menemani Ji Kyu yang tiba-tiba ingin menguntit Lee Jin Ki. Katanya Jin Ki sering berada di perpustakaan saat jam istirahat. Maka akhirnya kedua bersahabat itupun langsung ke perpustakaan mencari sosok Jin Ki.

Karena bosan menunggu Ji Kyu yang ternyata dari tadi hanya berani menatap Jin Ki dari jauh, akhirnya Je Yoo pun memutuskan jalan-jalan mencari buku yang menarik baginya.

Saat menemukan sebuah buku, ternyata buku itu ada di rak teratas, Je Yoo berusaha mengambilnya dengan berjinjit, tapi buku itu tak juga tergapai olehnya.

Tiba-tiba sebuah tangan terulur mangambil buku itu. Entah mengapa orang yang mengambilkan buku dan berdiri di belakangnya, tampak lama sekali mengambil buku itu.

Hembusan nafasnya bisa Je Yoo rasakan di dahinya. Orang itu seolah mengunci dirinya, berdiri dekat sekali dengannya, dengan satu tangan di sampingnya dan satu lagi mengambil buku. Je Yoo tak bisa kemana-mana, bahkan maju ke depanpun tak bisa karena langkahnya sudah terhenti oleh rak buku.

“Kau suka Kimia ya?” tanya orang itu.

Je Yoo berbalik, terkejut sekali ia menemukan seorang G-Dragon di depannya, tersenyum padanya sambil memberikan buku yang mau ia bawa tadi.

Je Yoo hanya mengangguk menanggapi pertanyaan G-Dragon. Je Yoo bermaksud pergi dari situasi yang membuat jantungnya berdegup kencang itu, tapi tangan G-Dragon menahannya.

“Ah, jamkkanman, Je Yoo-ssi.”

“Eh? Sunbaenim… tahu namaku?” tanya Je Yoo saat berbalik.

“Tentu aku tahu, barusan aku membaca dari name tag mu.” Ujarnya sambil tersenyum.

“Ah. Geuraeyo. Eh, waeyo, sunbaenim?” tanya Je Yoo. Kini G-Dragon melepas pegangan tangannya.

“Panggil Ji Yong saja, tak usah terlalu formal. Oh ya, ayo temani aku,” Kini Ji Yong menarik tangan Je Yoo lagi, membawanya keluar perpustakaan.

“Eh? Kemana?” Je Yoo kaget. Benar-benar deh, dua hari ini semua kejadian dalam hidupnya membuat ‘sport jantung’. Kemarin bertemu dan mengobrol dengan Jung Soo oppa, hari ini diminta jadi pacarnya, sekaligus bertemu dengan Ji Yong oppa. Je Yoo seperti mendapat durian runtuh.

Ji Kyu tak sengaja melihat Je Yoo yang ditarik oleh Ji Yong. “J!!” panggilnya cemas. Ia tahu Je Yoo sedang dekat dengan Leeteuk, kalau sampai ia dibawa oleh G-Dragon, ini artinya pasti ada apa-apa. Tapi Je Yoo malah memberinya isyarat untuk tidak perlu mengikutinya.

“Kau… mau menculikku ya?” tanya Je Yoo begitu sampai di parkiran sekolah.

Ji Yong memberikan sebuah helm padanya. “Kita akan main,” ujarnya sambil tersenyum lalu memakai helmnya sendiri.

“Main? Jam kelima mau mulai—”

“Sudahlah, sekali-kali bolos tak apa kan? Kau belum pernah kan?” Ji Yong tersenyum lalu naik ke motor besarnya.

“Ah, ponselmu,” pinta Ji Yong.

Kenapa semua harus berhubungan dengan ponsel? Pikir Je Yoo. Tapi Ji Yong malah mematikan ponsel Je Yoo dan memasukannya ke dalam saku jaketnya. “Nanti kukembalikan,” Je Yoo hanya memandangnya dengan heran lalu naik ke motor Ji Yong.

“Kaja!”

Dengan mudah Ji Yong kabur dari sekolah, satpam sekolah nampaknya sudah takluk olehnya. Je Yoo hanya tersenyum saja.

“Kenapa kau mengajakku?” tanya Je Yoo.

“Karena kupikir kau orang yang sangat menyenangkan.”

Ji Yong melajukan motornya dengan kecepatan yang tinggi membuat Je Yoo mau tak mau memeluknya dari belakang karena takut terjatuh. Ji Yong sendiri hanya tersenyum sambil mengemudikannya. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah tempat.

“Waaa… Lotte World!” seru Je Yoo antusias begitu sampai, sudah lama ia tak mengunjungi taman bermain, jadi ia sangat senang JI Yong mengajaknya ke sana.

Mereka menikmati wahana-wahana permainan di sana. Keduanya benar-benar menikmati hari itu. Tak Ji Yong sangka ternyata Je Yoo anak yang menyenangkan.

“Kita photobox yuk,” ajak Ji Yong tiba-tiba saat mereka melewati tempat photobox.

“Ah, boleh.”

Awalnya mereka berpose biasa saja, tapi tiba-tiba Ji Yong mencium pipi Je Yoo tepat saat foto di ambil. “Ehh??” Je Yoo kaget dengan perlakuan Ji Yong.

“Mianhae…” Ji Yong hanya tersenyum, membuat Je Yoo tak bisa berkata apapun selain menunduk karena malu.

Setelah photobox, Je Yoo mengajak Ji Yong membeli es krim. Mereka pun membeli es krim dengan rasa yang berbeda, agar nanti bisa saling mencoba.

“Mau?” tawar Je Yoo.

Ji Yong hendak mencoba es krim Je Yoo, tapi Je Yoo malah sengaja mengarahkan es krimnya ke mulut Ji Yong, alhasil hidung Ji Yong terkena es krim dan Je Yoo langsung tertawa terbahak-bahak.

“Ahh… jinjja! Kau berani padaku, hah?” Ji Yong hendak membalas Je Yoo tapi Je Yoo sudah berlari menjauh darinya.

Ji Yong hanya berdiri di tempatnya, terpaku melihat Je Yoo. Yeoja ini berani sekali denganku, pikirnya. Ji Yong pun tersenyum sambil menatap Je Yoo yang berada beberapa meter di depannya menjulurkan lidah padanya.

 

@ Neul Param High School

Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Leeteuk langsung keluar dari kelasnya, menuju kelas Je Yoo. Tapi ternyata kelas Je Yoo belum keluar, ia memutuskan menunggunya sambil bersandar ke dinding. Beberapa kali ia bersiul saking senangnya menghadapi hari ini.

“Hyung, kenapa kau di sini?” Eunhyuk, anak buahnya yang murid kelas 2 IPA 4, sebelah kelas Je Yoo, heran mengapa leader-nya ada di sana.

“Eh, Hyuk. Aku menunggu Je Yoo, kau mengenalnya?” tanya Leeteuk.

“Je Yoo? Ye, aku tahu. Dulu sempat sekelas waktu kelas 1. Waeyo? Tadi dia—”

“Ah, sudah keluar,” Leeteuk tak mempedulikan kata-kata Eunhyuk. Ia malah mencari-cari Je Yoo di kelasnya.

“Han Je Yoo ada??” teriaknya.

Kelas itupun sepi seketika, semua takut pada Leeteuk. Ji Kyu kaget setengah mati. Masalahnya tadi Je Yoo dibawa oleh G-Dragon, pasti akan terjadi perang.

“Ah, sunbaenim…”  Ji Kyu mendekati Leeteuk.

“Waeyo? Je Yoo mana? Kok tidak terlihat?” Ji Kyu berjalan keluar kelasnya.

“Tadi dia diculik oleh G-Dragon sunbaenim—”

“Mwo? Diculik GD?!” Leeteuk terdengar sangat marah.

“Tadi Je Yoo menyuruhku untuk diam, tapi aku cemas, saat mau mengejarnya aku malah ditahan oleh 4 member Bigbang lainnya,”

“Brengsek! Bigbang sialan! Dia sudah tahu mengenai Je Yoo. GD pasti mengancamnya sehingga Je Yoo tak berdaya,” Leeteuk segera mengambil ponselnya dan meminta nomor Je Yoo pada Ji Kyu.

“Aku sudah coba menghubunginya dari tadi, tapi tidak aktif,” ujar Ji Kyu penuh kecemasan.

“Hyung, tadi juga aku melihat Je Yoo dengan GD, kukira mereka memang pacaran. Tapi sepertinya tadi memang Je Yoo sedikit dipaksa oleh GD, tangannya ditarik.”

“Sialan!” Leeteuk mengepalkan tangannya, ia hampir saja menghancurkan ponsel yang dipegangnya itu. “Panggil anak-anak,” perintah Leeteuk pada Eunhyuk. Eunhyuk pun langsung menghubungi member Super Junior lainnya.

“Hyung, waeyo?” tanya Dong Hae yang tiba-tiba datang.

“Ah! Ada Dae Sung!” seru Eunhyuk. “Hae, kau hubungi yang lainnya!” Eunhyuk menyuruh Dong Hae.

Leeteuk langsung mendekati Dae Sung.

“Ya! Kemana bosmu?” tanya Leeteuk penuh amarah.

“Eh?” Dae Sung nampaknya tidak mengerti.

Leeteuk dan Eunhyuk terus berjalan mendekati Dae Sung sampai akhirnya Dae Sung tak bisa berjalan kemana-mana karena terhalang dinding dan Leeteuk serta Eunhyuk. Leeteuk menarik kerah kemeja Dae Sung.

“Katakan padaku, dimana Han Je Yoo?? Katakan kemana bosmu membawanya, katakan!!” teriak Leeteuk pada Dae Sung.

“Na… mollasseo…” ujar Dae Sung.

“Geojitmal! Ayo katakan!!” nada suara Leeteuk semakin meninggi. Lalu beberapa orang datang dan berdiri di belakangnya, beberapa member Super Junior mulai berdatangan.

“Aku benar-benar tidak tahu!” seru Dae Sung.

“G-Dragon membawa ‘pacarmu’, ke Lotte World.” Suara berat itu mengalihkan konsentrasi semua member Super Junior yang sedang memaksa Dae Sung. Leeteuk menoleh ke samping. Ada T.O.P, member Bigbang di sana.

“Mwo? Lotte World?”

“Ne, tapi aku tak tahu apa yang akan dilakukan GD pada ‘pacarmu’ itu.” T.O.P menekankan pada kata ‘pacarmu’.

“Kalian… sudah mengetahui semuanya?” tanya Leeteuk pelan hampir berbisik, namun kata-katanya sarat amarah.

“Hahaha… kami bukan hanya mengetahui semuanya, tapi kami… yang merencanakan semuanya,” T.O.P tersenyum sinis pada Leeteuk.

“Mwo? Jadi… Je Yoo… bagian dari rencana kalian?”

“Tidak, kami hanya tak sengaja memilihnya, dia sama sekali tidak tahu rencana kami, tapi bagusnya… dia melancarkan… secara tidak langsung,”

 

*~~FLASHBACK~~*

“Andwae… andwae… jangan gegabah. Kita serang… pakai ini…” G-Dragon menunjuk ke kepalanya, memaksudkan bahwa mereka harus menyerang dengan ‘otak’.

“Kurasa… aku punya sebuah ide.” ujar T.O.P setelah beberapa lama mereka terdiam.

“Apa itu?”

“Kelemahan orang-orang seperti kita dan mereka itu hanyalah… CINTA!”

“Jadi?” Dae Sung tak mengerti maksud T.O.P.

“Kita buat Leeteuk mencintai seseorang, lalu… hancurkan. Aku yakin dia akan melakukan apapun demi orang yang dicintainya.”

“Lalu kita harus menyewa orang untuk membuat Leeteuk jatuh cinta?” tanya GD.

“Memang cara yang mudah, tapi hal ini sedikit sulit dan beresiko,” sahut T.O.P.

 

Seminggu kemudian.

“Aku sudah menemukan orangnya, aku tak yakin dia cocok atau tidak, tapi nampaknya dia cocok.” Lapor T.O.P.

Sudah seminggu ini ia mencari tahu tipe perempuan kesukaan Leeteuk dan mencarinya di seantero sekolah. Tapi akhirnya ia memutuskan ‘mengambil’ Han Je Yoo menjadi tumbal mereka. Orangnya baik dan diharapkan bisa meluluhkan hati Leeteuk.

Semua cara diatur sedemikian rupa, serapi mungkin. Sampai bahkan pertemuan tak disengaja hari itupun merupakan suatu kesengajaan yang di atur member Bigbang.

Dengan semua koneksi yang dimiliki para member sampai akhirnya membuat Ji Kyu mengirim pesan pada Je Yoo untuk membelikannya jangka. Kebetulan mereka telah menyelidiki Je Yoo senang belanja alat tulis di toko mana, dan mereka pun sengaja membuat Leeteuk lewat ke jalan itu. Dan yang membuat Leeteuk terjatuh pun adalah orang suruhan Bigbang. Dan ternyata… tada! Je Yoo melancarkan misi mereka tanpa mereka kira. Semua berjalan sangat jauh, melebihi yang mereka harapkan.

Bahkan mereka tak menyangka Leeteuk langsung meminta Je Yoo jadi pacarnya esok harinya.

*~~FLASHBACK END~~*

 

“MWO?! Semua sudah kalian atur?!” tangan Leeteuk mengepal, amarahnya tak bisa ia bendung lagi.

“Aku hanya mengatur awalnya saja… pada akhirnya kalian sendiri yang mengaturnya, bukan? Justru aku yang telah mempertemukan kalian, kan? Berterimakasihlah padaku,”

“Cih! Aku tak sudi.”

“Kalau kau masih peduli pada Je Yoo-mu itu, sebaiknya kau temui dia. Aku tak tahu apa yang akan dilakukan GD di sana.” T.O.P berbalik pergi meninggalkan Leeteuk.

 

@ Lotte World

“Omo~ sunbae… aku harus kembali ke sekolah!” seru Je Yoo begitu menyadari sekarang sudah jam pulang sekolah, ia ada janji dengan Jung Soo oppa.

“Nanti sajalah, kusuruh anak buahku membawakan buku dan tasmu,”

“Bukan begitu, ponselku… kupinjam ponselku.”

“Sirheo.” sahut Ji Yong sambil berjalan mendahului Je Yoo.

“Sunbae, jebal.” Je Yoo menarik-narik jaket Ji Yong.

“Kubilang tidak. Kau mau menghubungi Leeteuk kan?” Ji Yong menatap lurus langsung ke mata Je Yoo.

“Eh? Sunbae… tahu?”

“Kau tahu apa? Aku sedang menculikmu, merebutmu dari Leeteuk.”

“Mwo?” Je Yoo semakin tak mengerti dengan yang terjadi.

“Tadinya aku malah ingin memperalat dirimu, tapi… beberapa jam saja bersamamu, aku… jadi tak bisa berbuat jahat padamu, mungkin aku menyukaimu. Yang pasti aku ingin merebutmu dari Leeteuk.”

“Apakah ini juga karena persaingan?” tanya Je Yoo. Kali ini lebih serius. Ia tak mau semua berakhir seperti ini, keduanya mempermainkan perasaannya.

“Awalnya seperti itu… tapi—”

“HAN JE YOO!!” teriakan seseorang mengejutkan Je Yoo dan Ji Yong.

“Jung Soo oppa??”

“Aiiisshh… dia datang…” Ji Yong mengumpat.

Di belakang Jung Soo ada 9 orang lainnya yang siap menghadapi Ji Yong, tapi tiba-tiba 4 member Bigbang pun datang.

Jung Soo menarik tangan Je Yoo dan mendekapnya.

“Gajimara, J… gajima…” lirihnya.

“Oppa…”

“Ya!! Kwon Ji Yong! Han Je Yoo is mine!”

“Mwo?? Haha…” Ji Yong tertawa sumbang, “kau tidak tahu betapa dia nyaman jalan bersamaku tadi. Jadi…” Ji Yong menarik tangan Je Yoo ke arahnya, “Han Je Yoo is mine.” Ji Yong merangkul Je Yoo.

“Ya!! Kau berani denganku, hah?” tantang Jung Soo.

“Kenapa aku harus takut padamu?”

Jung Soo menarik Je Yoo ke arahnya. Tapi Ji Yong pun menarik tangan Je Yoo. Keduanya menarik tangan Je Yoo, Jung Soo menarik tangan kirinya, Ji Yong menarik tangan kanannya.

“Yaa!! Apeuda!!” teriak Je Yoo. Tapi teriakannya tak dipedulikan kedua kubu itu.

“Yaa!! GEUMANHAE!!!” teriakan seseorang yang begitu keras menghentikan aksi kedua orang yang saling tarik-menarik itu. Ji Yong dan Jung Soo menoleh ke sumber suara.

Lima orang berdiri di antara kubu Super Junior dan kubu Bigbang.

“Hyungnim!” ujar keduanya.

Lima orang itu ternyata…. Dong Bang Shin Ki. Salah satu namja, tepatnya yang di tengah, diperkirakan leader mereka, berjalan mendekati ketiga orang itu. Tampang sang leader yang barusan berteriak itu tampak sangat marah, Je Yoo kaget dibuatnya sampai ia melongo saat melihat Jung Yun Ho, sang leader.

“Han Je Yoo itu tunanganku, berani-beraninya kalian mendekati tunanganku.” Ujar Yun Ho, yang lebih dikenal dengan U-Know.

“Ehhh??” Semua yang ada di sana kaget mendengarnya. Semua member Bigbang, member Super Junior, bahkan keempat member DBSK, dan juga Shin Ji Kyu yang ikut ke tempat itu bersama rombongan Super Junior.

“Jung Soo-ssi…” Yun Ho melepas pegangan tangan Jung Soo di tangan Je Yoo, “Ji Yong-ssi…” kali ini melepaskan tangan Ji Yong.

“Je Yoo milikku.” Yun Ho bergantian menatap Jung Soo dan Ji Yong.

“Oppa…” panggil Je Yoo sambil memelas, ia menggembungkan pipinya lagi. Kedua telunjuk Yun Ho menekan pipi kiri dan kanan Je Yoo, mengempeskan pipi gembung Je Yoo.

“Jangan seperti ini, Han Je Yoo. Kau pikir aku memaafkanmu?” tanya Yun Ho galak.

Je Yoo memeluk Yun Ho. “Mianhae… kau tahu aku selalu mencintaimu…” ucapnya dengan nada manja.

Hancur sudah hati kedua pria itu, Jung Soo dan Ji Yong.

“Tsk… Arasseo, sudah lepaskan.”

Semua orang tengah memandang sepasang kekasih itu. Memandang tak mengerti meminta penjelasan semuanya.

“Baiklah aku akan menjelaskan, aku dan Je Yoo sudah dijodohkan orang tua kami sejak kecil. Tapi kebetulan kami menerimanya dengan senang hati. Dan aku memang tak pernah mengatakan pada siapapun bahwa aku dan dia bertunangan. Aku takut dia nanti diincar, ya… seperti inilah. Maka dari itu bahkan member DBSK pun tak ada yang tahu.” Yun Ho membelai rambut Je Yoo yang masih memeluk dirinya.

“Oppa, kau tidak marah?” tanya Je Yoo begitu ia melepaskan pelukannya.

Yun Ho dengan cepat mencium bibir Je Yoo. “Menurutmu?”

Je Yoo tersenyum senang. Sedangkan Ji Yong dan Jung Soo masih meratapi nasib, tak percaya dengan apa yang terjadi pada mereka, tapi mereka mana bisa mengalahkan DBSK. Akhirnya dengan sangat terpaksa mereka harus merelakan gadis pujaannya jatuh ke tangan sang leader DBSK.

Lalu Yun Ho berjalan mendekati kamera sehingga wajahnya tertangkap close-up oleh bayangan para pembaca. “So, readers… Han Je Yoo is mine,” Yun Ho tersenyum pada readers. XDD

 

===THE END===

 

A/N: Sungguh paragraph ending paling geje yang saya buat XDD tapi sekaligus yang saya sukain… XDD

I love when hear 2Ye duet ^^

Here are some of their songs. All of the songs are not originally sung by them.

^__________^
Yeeun, Sunye – Memories

Yeeun, Sunye – Hero

Yeeun, Sunye – Reflection

Yeeun, Sunye – His Eye Is On The Sparrow

Yeeun, Sunye - Mamamia

Yeeun, Sunye, Yoobin - A goose’s dream

Yeeun, Sunye, Joo – Dream girl

Yeeun, Sunye, JYP, Jokwon – That’s What Friends Are For

Title       : Stay in Your Heart

Author  : missmun

Pairing  : Donghae/Sunye

Genre   : Fluff, slightly angst?

Length  : Drabble

Word Count: 264w

Warning: unbeta-ed, quickly written.

Disclaimer? Donghae is my fate and Sunye is my twin. Got it??


August 8th, 5 years ago was one of saddest day for Donghae. He lost his father. A father he respected so much, a father he was proud of so much, a father who is also his role model in life. Until now, Donghae still always cried if he remembered that day.

The members knew about this and since morning they cheered him up and said some words that made him felt better. They made sure that Donghae has made his dad proud of him. Donghae smiled and thanked them for always understanding him. Then they did a group hug.

After having so many schedules that day, Donghae could finally rest. When the other members still had some private business to do or only having some chit-chat, Donghae just headed to his bedroom. After having shower, he just wanted to sleep.

Donghae closed his eyes. “Appa, can we meet in my dream?” he mumbled.

Suddenly his iPhone he put in his desk vibrated. He was too lazy to take it and thought that he would read the message tomorrow. But, part of him were wondering who the sender was. He woke up and took the iPhone. He was smiling when he read the message.

From: My Sun

“People come, people go. Some of them stay in your heart. I know you’ve lost one of people you love. But I also know he’ll be always in your heart forever. I hope I can be another people who will stay in your heart forever.

PS: don’t be sad, oppa. Abeonim* won’t like to see you sad ;)

*abeonim = if a wife calls her father-in-law.

Title       : Comeback.

Author  : missmun

Pairing  : Donghae/Sunye

Genre   : Fluff

Length  : Drabble

Word Count: 271w

Warning: unbeta-ed, quickly written.

Disclaimer? Donghae is my fate and Sunye is my twin. Got it??

A/N        : I really wanna make this drabble. Hohoho… not really a drabble, huh? :3

It’s been 11.30 p.m New York time, and Sunye still cannot sleep. She was sitting in her bed while gripping tightly to her cell phone. She wanted to call someone in Seoul, but she was afraid, afraid of- …everything. She bit her lower lip and looked again at her cell phone screen but she didn’t touch anything.

“Just call him,” Sunye looked up to Yeeun, her roommate who were lying in her stomach beside her bed.

“What if he’s busy now?” Sunye frowned. “What time is it in Seoul?”

Yeeun hummed and thought a little while before saying “Don’t know. Around 1 pm, maybe?”

“So… a few hours before Music Bank, right?”

Yeeun just nodded her head in response.

“Maybe-”

“Don’t be hesitate, just call him, will you? Or…” Yeeun woke up and grabbed Sunye’s cell phone.

“NO!!” Sunye shouted.

“Come on, how come you haven’t congratulated him for his comeback??” Yeeun whined.

“I-”

Suddenly Sunye’s phone was ringing. Sunye took back her cell phone and Yeeun came closer to see the caller ID. Both of them were screaming like fangirls before realizing it’s already midnight and they cupped their own mouth.

“Y-yeoboseyo?”

“Sun-ah…”

“Ne… oppa.”

“Oppa just want to hear your voice before doing rehearsal for Mr. Simple first performance.” Sunye could hear Donghae was chuckling there.

“Ne, oppa. Jalhaebwa! Hm… oppa, mianhae…”

“Eh? Waeyo?”

“I haven’t congratulated oppa for Super Junior’s comeback. Chukhahaeyo~”

“Gomawo, Sun-ah…”

Sunye couldn’t help but smile hearing Donghae called her like that.

“Sun-ah, many people have waited for Super Junior’s comeback. But oppa is… waiting for you to comeback to Seoul, Sun-ah. Gidarilge, Sun-ah.”

READ PART 1

READ PART 2
Je Yoo POV
Seorang namja seperti Seung Hyun mendirikan toko bunga demi orang yang dicintainya?
Dan kenapa aku seperti ada perasaan yang aneh,, seperti iri.. atau mungkinkah.. cemburu?
Aah.. mungkin aku hanya terlalu banyak pikiran. Terlalu terbawa suasana.
Je Yoo POV END

“Choi Jin Ri, yeodongsaengku…” ucap Seung Hyun pada Je Yoo yang tampak sedang melamun.
“Ye? Yeodongsaeng?? Oooohh…” sepertinya Je Yoo tak bisa menyembunyikan rasa tenangnya saat mengetahui sebenarnya perempuan di foto itu adalah adiknya Seung Hyun.
“Hahaha.. waeyo? Sepertinya kau senang sekali Jin Ri itu adikku. Tenang saja.. dia bukan yeojachinguku..” Seung Hyun tersenyum jahil. Dan Je Yoo hanya bertampang jutek saja karena tadi sempat keceplosan.

Je Yoo dan Seung Hyun ngobrol-ngobrol tentang banyak hal. Je Yoo pun mulai membuka dirinya pada Seung Hyun, dia tak seketus biasanya lagi, dan ternyata Seung Hyun orang yang menyenangkan kalau diajak ngobrol.
“Aku menyukaimu. Aku menyukai tawamu, Han Je Yoo..” ungkap Seung Hyun saat mengantar Je Yoo pulang.
Je Yoo kaget mendengarnya. “Haha.. oppa ini ada-ada saja..” Je Yoo hanya menganggap omongan Seung Hyun tadi tidak serius meskipun sempat deg-degan juga tadi saat mendengarnya.
Seung Hyun pun tersenyum lembut. “Sudahlah, tak usah dipikirkan..” Seung Hyun mengacak rambut Je Yoo. Setelah itu Je Yoo pun pulang ke rumahnya.

Awal Agustus, 11 bulan setelah kepergian Ji Yong ke Amerika…
Semilir angin di sore itu menambah sejuk di hari dimana matahari menyengat dengan teriknya. Masih musim panas dan rasanya musim panas kali ini semakin panas dari tahun ke tahun, mungkin lapisan ozon memang sudah benar-benar menipis sehingga tak mampu menahan sinar ultraviolet dari matahari. *bukannya puitis malah ilmiah ya?? XDD*
Sore itu Je Yoo dan Seung Hyun sedang jalan-jalan di Citizen’s Park dekat Sungai Han sepulang kerja Je Yoo. Mereka duduk di salah satu kursi taman setelah tadi membeli tteokbokki di pinggir jalan dan berniat istirahat untuk memakan tteokbokki itu.
“Puh..hah..hahhh..” Je Yoo kepedasan saat makan makanan yang berbalut saus pedas itu.
“Hahaha.. nih minum..” Seung Hyun menawarkan sebuah botol air mineral yang memang sudah dibelinya sejak tadi, ia tahu Je Yoo pasti akan kepedasan, karena Je Yoo tidak terlalu suka makanan pedas. Aneh memang, padahal dia orang Korea asli.
Je Yoo pun segera merebut botol air itu dan meminumnya. “Aaahh…”
Seung Hyun mengelap noda saus yang masih tersisa di dekat bibir Je Yoo yang tangannya sendiri. “Kau makan sampai belepotan begini..” Je Yoo bisa melihat Seung Hyun mengelap noda saus itu dengan penuh rasa sayang. Hal itu membuat jantung Je Yoo berdegup lebih kencang.

Je Yoo POV
Omona~~.. kenapa aku ini??
Entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu grogi diperlakukan seperti ini oleh Seung Hyun oppa?
Je Yoo,, sadaaarr.. dia kan sudah kau anggap seperti oppa mu..
Je Yoo POV END

Semenjak Je Yoo bekerja di toko bunga milik Seung Hyun, mereka memang semakin dekat. Je Yoo menganggap Seung Hyun seperti kakaknya sendiri. Begitu juga Seung Hyun yang menganggap Je Yoo seperti adiknya. Meskipun sebenarnya Seung Hyun menyimpan perasaan cinta dalam hatinya. Namun ia tak pernah bisa melewati tembok persahabatan Je Yoo – Ji Yong yang terlalu kokoh. Kalau tak bisa melewati itu, ia tak akan pernah bisa mendapatkan hati Je Yoo.

@ Amerika.
“I’m sorry.. Mrs. Kwon.” ucap dr. Smith singkat.
Dr. Smith adalah salah satu dokter yang menangani Ji Yong di rumah sakit di Amerika. Begitulah yang dikatakan dr. Smith di ruangannya. Ny. Kwon pun keluar dari ruang dokter dengan berderai air mata.

@ Seoul, South Korea.
“Je Yoo-ya.. oppa mau jujur sesuatu padamu, jangan marah ya..” ucap Seung Hyun sambil berjalan-jalan sekitar taman.
“Ne, oppa.. wae geurae?” Je Yoo menoleh ke namja di sampingnya. Ia berhenti jalan karena Seung Hyun pun menghentikan langkahnya.
“Ingat nggak? Dulu oppa pernah bilang oppa menyukaimu. Semakin lama perasaan itu semakin tumbuh. Berawal dari menyukai tawamu, senyummu, kini oppa benar-benar mencintaimu. Ini bukan.. sesuatu hal.. antara kakak-adik. Ini murni cinta.. seorang namja untuk seorang yeoja.” Seung Hyun menatap Je Yoo lembut.
Je Yoo benar-benar terkejut mendengarnya. Jantungnya berdetak begitu kencang, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia memegangi tangannya, tak sengaja ia menyentuh gelang pemberian Ji Yong. Je Yoo tersentak. Ia jadi teringat Ji Yong lagi.
PLUK
Gelang itu tiba-tiba putus, padahal ia hanya menariknya sedikit. Je Yoo melihat gelang yang putus itu dengan tatapan tak percaya. Air matanya menetes perlahan.
“Ji Yong..” lirihnya pelan.
Segera saja Je Yoo berlari sekencang-kencangnya. Ia ingin sekali pulang dan entah lakukan apa saja asal gelang itu bisa kembali menyatu. Putusnya gelang itu membuat Je Yoo berpikir sesuatu yang tak pernah ingin ia pikirkan.

Je Yoo POV
Andwae.. Andwae..
Ini pasti hanya gelang saja..
Ji Yong pasti baik-baik saja..
Ji Yong tak boleh meninggalkanku begitu saja..
Ji Yong tak mungkin meninggalkanku begitu saja..
Je Yoo POV END

“Je Yoo!!”
Je Yoo tak mempedulikan lagi teriakan-teriakan Seung Hyun. Yang paling penting saat ini gelangnya. Ji Yong-nya.

Je Yoo akhirnya sampai di rumahnya. Nafasnya terengah-engah, air mata tak henti-hentinya mengalir dari kedua matanya. Ia terus menerus menepis pikiran buruknya. Dan ia sangat terkejut melihat seseorang di depan pintu rumahnya. Sejenak ia pikir itu hanya bayangannya, namun Je Yoo menghampirinya.
BRUK!
Je Yoo menubruk orang itu, memeluknya dengan sangat erat. Memastikan dia benar-benar nyata sekaligus melepas kerinduan yang begitu besar yang selama ini ia rasakan.
“Ji Yong.. hiks.. ini benar-benar kau kan? Ji Yong.. hiks.. Ji Yong.. bogoshipeo~..”  Je Yoo masih belum melepaskan pelukannya.
“J.. berat..” ujar Ji Yong karena Je Yoo sedikit mendorong tubuhnya sehingga ia harus menahan tubuh Je Yoo agar tidak jatuh.
“Ngga mau dilepas.. masih kangen..” selama beberapa lama Je Yoo terus memeluk Ji Yong. Sampai akhirnya melepasnya. Je Yoo menatap lekat-lekat namja di depannya. Begitu ia merindukannya selama hampir setahun ini.
Ji Yong mengacak rambut Je Yoo. Pandangan Ji yong kini terfokus ke arah pagar rumah Je Yoo, ada seseorang yang sedari tadi melihat mereka. “J… siapa dia?” tanya Ji Yong tanpa sekalipun melepaskan pandangannya dari namja yang memperhatikan mereka itu.
Je Yoo berbalik melihat ke arah pagar rumahnya yang terbuka lebar karena tadi Je Yoo baru masuk tanpa menutupnya lagi. Je Yoo terkejut begitu melihat seorang namja berdiri dengan membawa helm di tangan kanannya. Choi Seung Hyun, ia berdiri di pintu pagar rumah Je Yoo, lalu ia pun berbalik lagi dan menaiki motor besarnya. Je Yoo hendak mengejarnya, namun tangan Ji Yong menahannya. Je Yoo pun memilih tinggal saja tak mengejar Seung Hyun oppa. Je Yoo merasa sedikit tidak enak, ia ingat tadi Seung Hyun oppa sempat menyatakan cinta padanya, dan barusan Seung Hyun melihatnya berpelukan dengan Ji Yong. Seung Hyun pasti merasa sakit hati.
Je Yoo dan Ji Yong saling bercerita di rumah Je Yoo. Je Yoo menceritakan semua hal tentang keidupannya selama hampir setahun tanpa Ji Yong. Tak lupa ia juga menceritakan tentang Seung Hyun agar Ji Yong tahu yang sebenarnya. Sedekat-dekatnya Je Yoo dengan Seung Hyun, meskipun Je Yoo pernah merasakan percikan-percikan cinta, namun baginya yang paling ia cintai tetaplah Ji Yong. Bagian hati terdalamnya tak pernah bisa berpaling dari Ji Yong.

Besoknya @ kampus Je Yoo.
Ji Yong menjemput Je Yoo di kampusnya, rencananya ia ingin mengajak Je Yoo makan siang bersama. Ia melihat Je Yoo keluar dari salah satu gedung di kawasan kampus yang luas itu. Ji Yong pun langsung mendekati Je Yoo, namun langkahnya terhenti, ia melihat Je Yoo keluar bersama orang yang ia lihat kemarin di depan rumah Je Yoo, mereka tertawa bersama tampak bahagia.
Je Yoo melihat Ji Yong yang berdiri beberapa meter di depannya, senyumnya mengembang, ia berlari kecil menuju Ji Yong.
“Hey.. kau datang? Kenapa nggak bilang-bilang? Surprise kah?” Je Yoo tertawa senang. Sedangkan Ji Yong hanya tersenyum kaku.
Seung Hyun berjalan melewati mereka. “Je Yoo, duluan ya..” Seung Hyun pun menundukkan sedikit kepalanya saat bertatapan dengan Ji Yong, Ji Yong pun ikut menunduk dan tersenyum tipis.

“Besok kau ulang tahun.. mau apa?” tanya Je Yoo ke Ji Yong sambil makan eskrim batangan di tepi danau.
“Mau kau.” Jiyong tersenyum. Je Yoo hanya membelalakkan matanya, Jiyong pun melanjutkan kalimatnya, “kenapa kaget? Aku ingin bersamamu seharian tanggal 18 nanti. Mulai jam 12 malam sampai jam 12 malam lagi, otte?”
“Hm? Kan aku kuliah…”
“Bolos saja sehari untukku, jebal..” Jiyong menatap serius Je Yoo.
“Haha.. dasar kau… baiklah, memangnya kau pikir aku bisa menolak permintaanmu?” Jiyong hanya tersenyum mendengar Jeyoo berkata seperti itu. “Eh iya, kan katanya kalau kau pulang kau sudah sembuh, berarti sekarang kau sudah sembuh dong? Jeongmal?”
Jiyong hanya menatap Je Yoo di sampingnya lalu ia tersenyum, senyum yang menenangkan Je Yoo. Je Yoo pun ikut tersenyum senang. Jiyong lalu mengantar Je Yoo pulang ke rumahnya.
“Ingat ya, nanti jam 12 malam aku jemput.” Jiyong mengacak-acak rambut Je Yoo.
“Haha.. beneran ya? Ne, arasseo,” Je Yoo mencubit kedua pipi Jiyong.
Di rumah, Je Yoo menelepon Seung Hyun, meminta jadwal kerjanya besok diganti hari lain saja. Seung Hyun pun mengizinkannya.

18 Agustus. 00.00
nan neoreul saranghae
i sesangeun neo ppuniya
sorichyeo bureujiman jeo daedap eomneun
noeulman burkge taneunde
Ponsel Je Yoo berbunyi, Je Yoo yang sedang tidur mengambil ponselnya dan mengangkatnya.
“Yeoboseyo?”
“YA! Bangun! Aku sudah di depan rumahmu!”
Je Yoo tersentak dari tidurnya, ia pun segera bangun dan menuju jendela kamarnya dan membuka gordennya. Ia melihat Ji Yong di bawah melambaikan tangan padanya.
“Arasseo. Aku ganti baju dulu, tunggu sebentar ya…” Je Yoo menutup teleponnya. Ia tersenyum senang. Di hari special bersama orang yang paling special baginya. Hari ini pasti akan jadi hari yang sempurna. Sebelum keluar rumah, Je Yoo terlebih dulu pamit pada unni-nya agar tidak khawatir.
Tengah malam itu Ji Yong membawa Je Yoo ke rumahnya. Di halaman belakang rumahnya ternyata Ji Yong sudah menyiapkan banyak hal. Ada sebuah tenda dan kayu-kayu bakar yang sudah di susun. Suasananya benar-benar seperti di perkemahan.
“Hahaha… kita kemah?” tanya Je Yoo sambil kagum dengan semua yang sudah dipersiapkan Ji Yong dengan sempurna.
“Ne. Kau tau dari dulu umma tak pernah mengizinkanku berkemah, jadi sekarang aku mau.” Ji Yong tersenyum seperti anak kecil.
“Arasseo. Tapi… tendanya hanya satu?” Je Yoo menunjuk tenda kecil berwarna merah bata.
“Hmm… aku hanya punya satu tenda, eotteokhae?” tanya Ji Yong tanpa ingin memberi solusi atas hal itu.
“Ehh… yaa… tidak apa-apa sih, hanya saja…” Je Yoo menggantung kalimatnya.
“Hanya saja kenapa?” tanya Ji Yong langsung.
‘Hanya saja aku pasti takkan bisa tidur!’ Je Yoo ingin sekali mengatakannya, namun ia tak bisa berkata apapun. “Could it mean that we… sleep together?” tanya Je Yoo ragu. Ia menatap Ji Yong di sebelahnya yang hanya mengulum senyum.
“Ne, memangnya mau bagaimana lagi? Kalau kau mau tidur di rumahku sih, boleh saja, yang pasti aku mau di sini.” Ji Yong mengambil minyak tanah di samping tenda lalu memrapikan beberapa kayu bakar yang berserakan.
“Dan aku membiarkanmu tidur sendiri diluar? Andwae… Baiklah aku… aku tidur di sini juga.”
Ji Yong yang berjongkok di depan kayu bakar yang akan dijadikan api unggun itu menatap sahabat kesayangannya. “Kemarilah, kita buat api unggun,”
Je Yoo pun membantu Ji Yong membuat api unggun. Sambil duduk bersampingan mereka menikmati hangatnya api unggun. Je Yoo menatap Ji Yong yang mengulurkan tangannya ke depan agar terasa lebih hangat.
“Ya! Aku lupa belum bilang…” ucap Je Yoo. Ji Yong menatap Je Yoo heran. “Saengil chukhahamnida,” Je Yoo tersenyum manis pada Ji Yong.
“Ne… gomawo,” Ji Yong pun tersenyum penuh arti pada Je Yoo.

Seharian itu Je Yoo tak pernah lepas dari Ji Yong. Mereka terus bersama-sama kemanapun mereka pergi. Hari itu mereka jalan-jalan, shopping, main, pokoknya menghabiskan waktu berdua. Sampai jam 12 malam Ji Yong mengantar Je Yoo pulang.
“Jeongmal gomawoyo, menemaniku seharian. Aku senang sekali,” ujar Ji Yong saat mereka tiba di depan rumah Je Yoo.
“Cheonmaneyo, na do haengbokhae,” Je Yoo tersenyum.
“Night!” cups! Ji Yong mencium kening Je Yoo kilat. Je Yoo kaget, meskipun itu sudah jadi hal yang biasa di antara mereka, tetap saja Je Yoo selalu deg-degan jika hal itu terjadi lagi.

Beberapa hari berlalu setelah ulang tahun Ji Yong. Je Yoo dan Ji Yong benar-benar dekat lagi seperti sebelum Ji Yong pergi ke Amerika. Hal ini tentu saja membuat Seung Hyun sedikit kesal meskipun ia tahu ia tak bisa melakukan apapun.
Saat di kampus, biasanya sepulang kuliah di hari Selasa Je Yoo pergi ke toko bunga bersama Seung Hyun, namun hari itu Ji Yong menjemput Je Yoo, dan Seung Hyun melihatnya.
“Sepertinya kau sudah menemukan kebahagiaanmu, Han Je Yoo. Biarlah, asal aku bisa terus melihat senyum dan tawamu yang ceria.” Gumam Seung Hyun sambil memperhatikan Je Yoo dan Ji Yong yang sedang bercanda.
Tak lama setelah itu keadaan kembali berubah. Seung Hyun sangat jarang melihat Ji Yong datang ke kampus menjemput Je Yoo. Wajah Je Yoo pun akhir-akhir ini tampak sedih, Seung Hyun penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Ia berasumsi bahwa JeYoo dan Ji Yong sedang bertengkar.

@JinRi Florist.
Seung Hyun mengambil setangkai bunga matahari besar dan membandingkannya dengan wajah Je Yoo.
“Lihatlah, bunga matahari ini bahkan jauh lebih cerah dari wajahmu.” Ujar Seung Hyun.
Je Yoo mengadahkan kepalanya menatap Seung Hyun. “Oppa…”
Seung Hyun memberikan bunga matahari itu pada Je Yoo, itu memang bunga kesukaan Je Yoo. “Mau cerita sesuatu?” tawar Seung Hyun.
Je Yoo menggeleng. “Tidak ada apa-apa kok oppa, hanya saja aku tak tahu kenapa akhir-akhir ini Ji Yong seperti menghindar dariku,” jawab Je Yoo lemas.
“Geuraeyo? Mungkin dia sedang sibuk saja. Hmm.. nanti juga kalian akan baik-baik saja, oppa yakin…” Seung Hyun tersenyum pada Je yoo.
“Ne, gomawo, oppa.”

Je Yoo mencoba mengirim pesan singkat pada Ji Yong.
“Ji, ketemuan yuk sekarang. Di taman dekat rumahmu ya… aku tiba-tiba terpikir mau buka time capsule kita… :) . Please come, G.”
Je Yoo sudah menunggu selama 1 jam di taman itu. Tadinya Je Yoo berniat ke rumah Ji Yong saja menjemputnya. Tapi ternyata Ji yong membalas pesan Je Yoo dan mengatakan kalau ia akan datang. Je Yoo senang sekali mengetahuinya.

“Maaf aku terlambat, tadi ada perlu dulu sama umma,” ucap Ji Yong begitu sampai di tempat janjiannya bersama Je Yoo.
“Gwaenchana.” Je Yoo tersenyum. “Oh ya, aku mau lihat kotak yang waktu itu kita kubur. Wah, sudah 10 tahun lebih ya…”
Ji Yong tersenyum. “Kau masih ingat ternyata,”
“Tentu saja aku ingat. Kemarin baru ingat sih, tapi aku jadi penasaran, kaja!” Je Yoo menarik tangan Ji Yong.
Dulu, sewaktu Je Yoo dan Ji Yong berumur 9 tahun, mereka mengubur sebuah kotak kayu yang berisi impian mereka jika sudah besar. Dan hari ini Je Yoo mengajak Ji Yong, karena Je Yoo ingin membiarkan Ji Yong mengetahui apa impiannya waktu itu. Karena Je Yoo ingin membiarkan Ji Yong mengetahui perasaannya yang ia pendam selama ini dibalik status sahabat mereka. Perasaan yang sangat berarti bagi Je Yoo, yang Je Yoo yakini bahwa perasaan itu adalah cinta, bukan hanya sayang pada seorang sahabat.
Je Yoo sudah menyiapkan sekop kecil untuk menggali tanah. Je Yoo pun menggali tanah di bawah pohon beringin besar di taman itu, ia akhirnya menemukan kotak kayu milik mereka dulu.
“Wah! Masih ada!” seru Je Yoo girang. “ini milikmu,” Je Yoo menyerahkan sebuah botol kecil yang berisi kertas di dalamnya pada Ji Yong, “dan ini milikku.”
Mereka berdua asyik membuka botol masing-masing dan membaca impian mereka masing-masing. Je Yoo malah terkekeh sendiri saat ia membaca miliknya. Ia masih ingat benar apa yang ditulis, tapi tetap saja membaca yang aslinya membuat ia tertawa.
“Impianmu apa, Jiyongie? Nanti kubantu mencapainya.” tanya Je Yoo pada Ji Yong yang masih asyik memperhatikan kertas impian miliknya. Dulu mereka memang pernah berjanji bahwa jika suatu saat nanti mereka membaca impian itu lagi dan saling memberitahu impian mereka, maka keduanya akan saling membantu mencapai impian itu.
“Haha… tidak. Bukan apa-apa. Impianku mau jadi Presiden Korea, sudahlah waktu itu kan aku masih kecil.” Ujar Jiyong sambil tertawa kecil.
“Hah? Masa aku harus membantumu menjadi presiden Korea??’
“Hahaha… sudahlah, tidak perlu. Lagipula sudah bukan impianku lagi kok,” Ji yong tersenyum.
“Oh, arasseo. Tapi…” Je Yoo menunduk. Ia gugup sekali, saat ini ia akan menyatakan perasaannya pada Ji Yong.
“Impianmu apa?” tanya Ji Yong.
“Impianku… dari dulu sampai sekarang… aku masih memimpikannya.” Ucap Je Yoo sambil masih menunduk.
***End of part 3.

READ PART 1

3 bulan kemudian. November.

Lagi-lagi Je Yoo ke danau sendirian. Menatap air danau yang tenang. Mengingat setiap memori tentang Ji Yong semua yang pernah mereka lakukan di danau ini. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Girl… You’re my lollipop oh girl…
You’re my lolli lolli girl…~~
“Yeoboseyo?”
“Pasti sedang memikirkanku, ya kan?” tanya seseorang di seberang sana.
Je Yoo terdiam, ia benar-benar kaget.
“YAA!! Kau nggak kangen??” orang tadi berkata dengan nada yang agak sedikit kesal.
“Omona~~.. JI YONG????” Je Yoo berteriak, keras sekali.
“YAA!! Berisik sekali!! Nggak perlu teriak kaaaann??” Je Yoo menoleh ke sumber suara, ada orang lain selain dirinya di danau itu. Je Yoo menemukan sunbaenya, TOP di sampingnya, tepat di balik pohon yang sama dengan pohon tempatnya berteduh. TOP menatap tajam padanya.
“Ngapain kau??” Je Yoo kaget melihat ‘sunbae-kurang-ajar’ itu di sana.
“Kau yang ngapain? Ini tempat istirahatku, aku lagi tidur nih. Dan kau sangat mengganggu, tahu???”
“Mwo?? Tempatmu?? Mianhaeyo, SUNBAE..” Je Yoo menekankan nadanya di bagian ‘sunbae’. “Ini sudah jadi tempatku sejak lama, tempatku dengan Ji Yong! Kau yang mengganggu!!” lanjutnya.
“Kau…” TOP semakin marah. Namun belum sempat ia mengeluarkan amarahnya, Je Yoo pergi dari situ.
“Omona~~ lupa.. Ji Yong.” Je Yoo pergi menjauh dari TOP.
“Ji Yongie… kau apa kabar??” Je Yoo bicara di telepon.
“Tadi kenapa sih? Ada apa? Kok kayaknya ada ribut-ribut tadi..” Ji Yong senang akhirnya ia bisa mengobrol juga dengan Je Yoo.
“Aaahh.. aniyo.. tadi hanya sunbae kurang ajar. Dia menyebalkan sekali.. dia sok menyeramkan, sok cool. Huuhh..”
“Sun…bae? Kau sedang di kampus ya?” Ji Yong sedikit kaget mendengarnya.
“Ani. Aku di danau kita.. sedang memikirkanmu.”
“Di danau… bersama… sunbae itu?” Ji Yong kaget, tak percaya Je Yoo-nya bersama orang lain di ‘tempat mereka’. Ada rasa seperti… cemburu.
“Bukan gitu. Aku lagi di danau, ketemu si sunbae. Ah sudahlah, tak perlu membahasnya. Oh ya, aku sebel sekali sama kamu, huh.. Kenapa baru menelepon?”
“Hehehe.. mianhae, Je Yoo.. aku tidak ingin kau mencemaskanku, aku…”
“Tidak mengabariku berarti aku lebih mencemaskanmu! Kabarmu bagaimana??” Je Yoo hampir menangis saking bahagianya bisa mendengar suara Ji Yong, meski hanya suaranya.
“Hehe.. Aku baik-baik saja, princess..”
Je Yoo sedikit kaget juga, sudah lama sekali Ji Yong tak memanggilnya ‘princess’, dan kali ini ia memanggilnya begitu lagi. Senang sekali rasanya.
“Pengobatanmu? Lancar? Semakin baikkah?”
“Hmpf.. hahaha.. aku kangen sama cerewetmu.. hihihi..” Ji Yong malah ketawa-ketawa.
“Aaaahh… G, jawab dong..” Je Yoo bete karena Ji Yong ketawa melulu dari tadi.
“Hmm… yaaa… sampai saat ini siih,, masih biasa aja,, hehehe..”
“Hoo… lalu, kapan kau pulang?” tanya Je Yoo penuh pengharapan.
“Hmmmm… mollaseoyo.. kau begitu merindukanku, princess?”
“Aishh… aniyo, aku tau pasti kau yang merindukanku.. jadi..”
“Hahaha.. baiklah.. aku memang merindukanmu…”
“Hihihi..” Je Yoo tersenyum senang, ia merasa menang dari Ji Yong.
“Je Yoo.. kau.. jangan pernah ke danau bersamanya.. jangan pernah ke danau bersama.. orang lain.”
“Hahaha..” Je Yoo tertawa. “Ne, Kwon Ji Yong. Aku janji tak akan pernah ke danau bersama orang lain selain dirimu.” Je Yoo serius saat mengatakannya.
Je Yoo senang bisa mendengar suara Ji Yong lagi setelah 3 bulan yang ia rasa sewindu itu. Saking senangnya mengobrol dengan Ji Yong lewat telepon, ia tak menyadari sedari tadi ada seseorang yang terus melihatnya, dan diam-diam mengaguminya. Mengagumi tawa dan senyumnya.

***

Siang @ Kantin kampus.
Je Yoo duduk di salah satu meja setelah membeli seporsi makanan. Tiba-tiba seseorang duduk di depannya. Je Yoo memandang orang itu dengan tatapan tidak suka.
“Kenapa sih aku harus selalu bertemu dengan sunbae?” tanya Je Yoo pada orang yang duduk di depannya.
“Ya! Lihat saja, semua meja sudah penuh, dan kau hanya makan sendiri saja, apa salahnya sih berbagi meja?” TOP, sunbae Je Yoo itu bertanya padanya.
“Hhhh…” Je Yoo mau nggak mau menerimanya. TOP pun tersenyum senang.
Setelah beberapa menit Je Yoo makan, ia menoleh ke arah sunbae di depannya. Memperhatikan apa yang dimakan oleh sunbae-nya. Hanya sebungkus roti dan sekotak susu. Kebiasaan Je Yoo kalau ia makan, memperhatikan apa yang di makan orang yang ada di depannya. Dan orang yang selalu makan di depannya itu hanya Ji Yong dan onnie-nya, Je Yoo memperhatikan makanan Ji Yong karena ia nggak mau Ji Yong makan makanan yang salah karena ia tahu tubuh Ji Yong lemah dan mudah sakit, jadi ia memperhatikan apa yang dimakan Ji Yong. Andai saja yang di depannya itu Ji Yong, pasti sudah ia marahi karena makan terlalu sedikit, tapi sayangnya yang di depannya bukan Ji Yong.
“Waeyo? Mau makananku?” pertanyaan TOP membuyarkan lamunan Je Yoo.
“Ha?”
“Dari tadi kau terus memperhatikan makananku, kau mau? Tapi sudah habis nih..”
“Ah.. aniyo.” Je Yoo menunduk dan melanjutkan kembali makannya.

Karena hanya makan roti dan susu, TOP menyelesaikan makanannya dengan cepat, tapi setelah selesai juga ia hanya diam saja.
“Sunbae, kalau sudah selesai kau sangat diperbolehkan untuk pergi.”
“Kau ini..”
Je Yoo melanjutkan makannya dan tidak mempedulikan sunbaenya.

Selesai kuliah, Je Yoo pergi ke perpustakaan, tapi di jalan menuju perpus, ia sudah bertemu seseorang yang sangat tidak ingin ia temui, TOP si ‘sunbae-kurang-ajar’. Je Yoo membalikkan tubuhnya dan berniat mencari jalan lain menuju perpustakaan, namun TOP malah mengikutinya. TOP mensejajarkan langkahnya dengan Je Yoo.
“Annyeong, Je Yoo..”
Je Yoo mendelik ke arah TOP dan segera saja mempecepat langkahnya berharap TOP mengerti bahwa ia tak mau bertemu dengan sunbaenya itu. Tapi sayangnya, TOP terus mengikuti Je Yoo. Je Yoo pun akhirnya menghentikan langkahnya.
“Kau kenapa sih? Mengikutiku terus, nggak ada kerjaan.” Je Yoo bicara dengan nada yang sangat ketus.
“Hm..” TOP meletakkan jari-jarinya di antara mulut dan hidungnya, tampak sedang berpikir. “Mau dengar ceritaku?”
“Ha?” Je Yoo melongo tak percaya dengan maksud TOP. Mendengar ceritanya? Pentingkah? batin Je Yoo. Je Yoo pun meninggalkan TOP. Dan lagi-lagi TOP masih mengikutinya sampai perpustakaan.

@ Perpus
Je Yoo akhirnya mendapatkan buku referensi yang ia cari, ia pun mengambilnya. Ternyata di balik rak buku ia melihat lagi wajah TOP yang sedang tersenyum padanya.
“Ayolah Je Yoo, ngobrol sebentar yuk..” pinta TOP.
“Nggak!” Je Yoo sedikit berteriak, hal itu membuat penjaga perpus menegurnya untuk tidak berisik.
Karena bete, Je Yoo menghindari TOP lagi, ia membaca buku yang tadi ia bawa di pojokan perpustakaan.

TOP memperhatikan Je Yoo yang sedang membaca di meja dekat jendela dari kejauhan.

TOP POV
Cewek ini benar-benar menarik. Susah sekali menaklukannya.
Han Je Yoo, biarkan aku melihat tawamu sekali lagi, aku suka melihatnya, aku juga suka mendengarnya.
TOP POV END

TOP pun duduk di depan Je Yoo.
“Gara-gara aku jadi panitia penerimaan mahasiswa baru, banyak mahasiswa yang takut padaku karena katanya aku ini menyeramkan dan galak. Tapi pada akhirnya banyak perempuan yang menyukaiku. Dan kau tahu nggak? Minggu kemarin, aku terjatuh karena kulit pisang di depan para mahasiswi baru yang menyukaiku, malu sih.. mereka menertawaiku lho.. haha..” TOP berusaha menghibur Je Yoo dengan ceritanya yang garing, ia tertawa sendiri, namun ia berhenti tertawa ketika Je Yoo menatapnya tajam.
“Nggak penting.” Je Yoo menutup bukunya dan berjalan keluar perpustakaan.

Setelah kejadian di perpustakaan, tak henti-hentinya TOP mengikuti Je Yoo kemanapun yeoja itu pergi. Ia terus menceritakan cerita lucu agar Je Yoo tertawa, namun usahanya sia-sia. Sudah seminggu mengikuti Je Yoo, hasilnya nihil. Bahkan tersenyum pun tidak.

Sepulang kuliah, Je Yoo menyempatkan diri mengunjungi danau kenangannya. Akhir-akhir ini Je Yoo lagi rajin datang ke danau. Kalau sudah di danau, pasti pikirannya melayang ke masa-masa ia bersama Ji Yong. Sudah sebulan sejak Ji Yong meneleponnya, Ji Yong tak pernah menelepon lagi, ia tak mengerti kenapa.

“Lagi-lagi di sini… sendirian pula.” Je Yoo menoleh ke belakang, rasanya ada yang sedang bicara padanya.
Benar saja, TOP ada di sana. Je Yoo bangkit dari duduknya, ia hendak pergi, namun TOP menahan tangannya.
“Wae?” tanya TOP.
Je Yoo berusaha melepaskan cengkraman tangan TOP, tapi sulit sekali, TOP mencengkramnya terlalu kuat.
“Aku tak mau disini denganmu.” ucap Je Yoo datar. Wajahnya tak tampak sedang marah pada TOP seperti biasanya, malah terlihat sedih.
“Memangnya kenapa aku disini denganmu?”
“Ini tempatku dan Ji Yong!!” Je Yoo berteriak sambil berusaha melepaskan cengkraman TOP. TOP hanya mengerutkan dahinya, ia pun melepaskan tangan Je Yoo.
“Ji Yong?” Rasanya TOP pernah mendengar nama itu. Tak lama, dia pun ingat, Ji Yong adalah orang yang pernah menelepon Je Yoo sebulan lalu saat di danau ini. “Lalu, mana Ji Yong mu itu? Kenapa kau selalu sendiri di sini?” …dan selalu tampak sedih setiap kesini. TOP ingin melanjutkan kata-katanya, namun ia tak berani.
Je Yoo menunduk, wajahnya terlihat lebih sedih lagi dari tadi. Je Yoo menggigit bibirnya, seperti hampir menangis.
“Apa dia… meninggalkanmu?” TOP bertanya dengan sangat hati-hati.
Je Yoo menatap TOP, matanya berkaca-kaca. “Ia meninggalkanku untuk melindungiku.” Lalu Je Yoo pun pergi meninggalkan TOP.

TOP tak pernah tau siapa Ji Yong-Ji Yong itu, yang pasti ia yakin, orang itu adalah orang yang membuat Je Yoo bersedih terus beberapa minggu ini. Tapi pasti orang itu bisa membuat Je Yoo tertawa dengan sangat mudah. Pasti orang yang sangat berharga bagi Je Yoo. Mungkin pacarnya. Andai saja ia bisa menggantikan posisi Ji Yong ini.

***

Seminggu kemudian
@ Han’s House.
“Unni… Je Yoo sudah punya pekerjaan sekarang, part time di toko bunga, jadi Je Yoo tidak akan terlalu memberatkan unni.” curhat Je Yoo pada unni-nya, Han Eun Hye.
“Geurae? Baguslah. Kau tidak memberatkan unni kok, unni merasa senang karena dengan bekerja kau akan lebih bersosialisasi dengan orang lain. Dari dulu kan duniamu hanya kau dan Ji Yong saja.” Eun Hye unni tersenyum.
Je Yoo pun tersenyum kaku, agak sedih juga karena unni nya mengungkit tentang Ji Yong lagi, membuat kerinduannya pada si sahabat itu semakin membuncah.

TOP sedang berjalan-jalan di daerah Myeong-dong, hendak menuju suatu tempat. Sudah seminggu ia tak mengikuti Je Yoo lagi, tepatnya setelah kejadian di danau itu, TOP tak pernah menampakkan mukanya di depan Je Yoo. Sejujurnya ia cukup terpukul ketika mendengar tentang ‘Ji Yong’ itu, tapi ia menghindari Je Yoo bukan karena terpukul dengan masalah itu, ia mempersiapkan rencana baru untuk mendekati Je Yoo, rencana untuk mengembalikan tawa Je Yoo yang dulu, tawa Je Yoo yang sangat disukainya.
TOP melihat ke tempat yang ia tuju, Jin Ri Florist, ia terkejut karena ia melihat Je Yoo di sana. Je Yoo tersenyum ramah pada pelanggan yang datang ke toko bunga itu. TOP pun mendatangi Je Yoo.

“Annyeong has-..” Je Yoo tak melanjutkan sapaannya karena kaget melihat orang yang datang.
“Annyeong.. Je Yoo-ah..” TOP tersenyum.
“YA! Aku sudah senang seminggu ini tak ada kau, kenapa sekarang kau muncul lagi di hadapanku??” tanya Je Yoo sedikit berteriak.
“Ha? Mianhae, agassi.. Aku datang untuk membeli bunga. Tak seharusnya kau berteriak begitu pada pelangganmu. Harusnya kau tersenyum juga padaku, kau tadi senyum sama pelanggan sebelumnya.” TOP tersenyum.
Je Sun, teman kerjanya di toko bunga Jin Ri Florist itu kaget. “Je Yoo-ya..” Je Sun menyenggol lengan Je Yoo, namun JeSun jadi diam lagi begitu TOP menatap ke arahnya.
“Mwo? Aku tak sudi senyum padamu! Huh..” Je Yoo cemberut dan memutar badannya, mencari pekerjaan yang lebih menarik daripada cari ribut dengan sunbaenya.
“Boss! Tolong tanda tangani itu dulu, tanda pengiriman barang, ayo boss..” seorang namja yang juga teman kerja Je Yoo menarik TOP ke dalam toko bunga.
Je Yoo yang tadi sempat menoleh kaget dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Boss?? Pikir Je Yoo. Je Yoo mengintip ke dalam toko bunga, TOP tampak sedang menandatangani sesuatu di atas meja manager.
“Je Yoo-ya..” Je Sun menepuk pundak Je Yoo yang sedang mengintip.
“Dia.. dia..” jari Je Yoo terarah ke dalam toko.
“Kau ini berani sekali berteriak pada Tuan Choi! Dia Tuan Choi, Je Yoo!” JeSun memberitahunya.
“Tu.. Tuan Choi? Tuan Choi yang.. yang..”
“Ya, Tuan Choi yang pemilik toko bunga ini!” seru Je Sun.
“Tuan Choi yang kau bilang keren dan ganteng?” tanya Je Yoo seolah tak percaya.
Je Sun mengangguk. Je Sun memang pernah cerita tentang pemilik toko bunga ini, Tuan Choi, seorang namja yang keren, cool dan ganteng.
Je Yoo tiba-tiba lemas, barusan ia telah berteriak pada si pemilik toko bunga ini, dan entah bagaimana nasibnya nanti. Apalagi selama ini Je Yoo selalu memusuhi TOP. Ia juga baru ingat ia hanya tau nama subaenya itu TOP, sama sekali tak tau nama asli apalagi marganya.

Setelah selesai bekerja, TOP memanggil Je Yoo, ada yang dibicarakan katanya. Je Yoo pun tak menolak, bisa dipecat dia kalau menolaknya.
TOP dan Je Yoo pergi ke Wings Café, café yang tak jauh dari Jin Ri Florist.
“Sunbae… aku…”
“Seung Hyun,” TOP memotong kata-kata Je Yoo.
“Mwo?”
“Panggil saja Seung Hyun, namaku Choi Seung Hyun.” Seung Hyun tersenyum pada Je Yoo.
“Oh, ne..” Je Yoo mengangguk. “Seung Hyun.. hmm.. rasanya kurang sopan, kalau kupanggil oppa saja gimana?” tanya Je Yoo.
“Ehm.. Yaa.. boleh saja..” ujar Seung Hyun dengan cool, padahal dia senang sekali Je Yoo memanggilnya ‘oppa’.
Setelah beberapa menit saling terdiam, akhirnya Je Yoo membuka pembicaraan. “Jadii.. kau pemilik toko bunga ini?” Je Yoo bertanya seolah belum percaya Seung Hyun lah pemiliknya.
Seung Hyun mengangguk. “Wae?” tanyanya polos.
“Hoo.. hmpf.. hahaha…” Je Yoo tak mampu menahan tawanya.
Seung Hyun melongo melihat Je Yoo yang entah alasan apa dia jadi tertawa. Tapi lalu bibir Seung Hyun membentuk satu senyuman.

Seung Hyun POV
Haa… ini dia.. ini dia yang aku usahakan selama seminggu ini tapi tak pernah berhasil.
Sekarang malah aku bisa melihat dengan mudahnya.
Memang lucu sekali dia kalau tertawa.
Seung Hyun POV END

“Toko bunga ini, aku dirikan untuk seorang perempuan yang sangat kucintai. Dia sangat menyukai bunga dan impiannya adalah membuka sebuah toko bunga. Sayangnya.. dia meninggal karena kecelakaan. Maka dari itu, aku mendirikannya dan menamai toko ini sama dengan namanya.” jelas Seung Hyun, matanya tampak menerawang mengingat masa lalu. Lalu Seung Hyun memperlihatkan sebuah kalung yang gantungannya berbentuk hati, dan didalam gantungan hati itu ada fotonya yang terlihat lebih muda dari sekarang bersama seorang perempuan yang imut sekali. Seung Hyun tersenyum senang di foto itu dan entah mengapa hati Je Yoo mencelos saat melihatnya.

Je Yoo POV
Seorang namja seperti Seung Hyun mendirikan toko bunga demi orang yang dicintainya?
Dan kenapa aku seperti ada perasaan yang aneh,, seperti iri.. atau mungkinkah.. cemburu?
Aah.. mungkin aku hanya terlalu banyak pikiran. Terlalu terbawa suasana.
Je Yoo POV END

*** End of part 2.

Casts:
-    Fly To The Sky’s Brian Joo a.k.a Joo Min Kyu
-    Han Je Yoo

Inspired by : Like A Man MV by FTTS. Di kalimat pertama pun bakal langsung terasa dari MV itu banget.. dan ff ini udah lama sih :) haha…

“Dia terlalu banyak mengeluarkan darah! Suster, segera minta golongan darah A! Orang ini masih bisa di selamatkan!”

1 year later…
Aku membuka mataku perlahan, bau obat-obatan langsung menusuk hidungku. Aku mengedarkan pandanganku ke ruangan yang didominasi warna putih itu. Kepalaku rasanya sakit bukan main, aku memejamkan mata berharap sakitnya sedikit hilang. Namun sayang, bukannya sakitnya mereda, bayangan seorang yeoja muncul di benakku. Tatapan matanya… tatapan mata kekecewaannya. Tak mungkin hilang dari pikiranku. Aku membuka mata, tak ingin terlarut dalam memori menyakitkan itu.

Dokter mengatakan selama setahun ini aku koma. Sebuah peluru bersarang di otakku dan akhirnya dengan operasi peluru itu berhasil dikeluarkan, tapi akhirnya aku koma. Kenapa tidak sekalian aku mati saja? Itu yang aku inginkan saat manarik pelatuk pistol yang kuarahkan ke kepalaku sendiri, setahun yang lalu.

Seoul. Menginjakkan kaki di Seoul berarti aku harus bersiap menghadapi neraka kehidupanku lagi. Butiran-butiran salju turun dari langit. Musim dingin di Seoul tak sedingin hatiku yang sudah membeku. Ingin kukejar kembali cinta itu, cinta yang hangat yang senantiasa ia bagi kepadaku. Setidaknya ia mengingatkanku bahwa aku masih memiliki hati yang bisa mencintai. Sekali saja, tolonglah Tuhan, sekali ini saja izinkan aku melihat sosok yang kurindukan yang telah setahun ini tak kutemui. Sosok bidadari musim semiku, Han Je Yoo.

Aku menatap sebuah kunci di tanganku. Kugenggam kunci itu lalu aku melangkah dengan mantap menuju sebuah tempat. Dengan gemetar aku buka pintu studio dan toko lukisan itu. Aku masuk ke dalam, ku edarkan pandanganku ke sekeliling tempat itu. Dari dulu tempat ini tak berubah. Satu demi satu kenangan mulai muncul dan menari-nari dalam benakku. Aku dan Han Je Yoo, yang mendirikan tempat ini. Je Yoo sangat senang melukis dan aku mendukungnya untuk menjual lukisan-lukisannya. Kami bahagia di tempat ini. Dulu, ketika semua belum berubah dan belum terungkap.
Tiba-tiba terdengar suara-suara langkah kaki dari dalam, aku pun segera melarikan diri dari tempat itu tanpa sempat membawa kembali kunci milikku dan membiarkan pintunya terbuka begitu saja.
**

Aku berjalan menuju sebuah gudang bekas di pinggiran Seoul. Beberapa orang menatapku sinis begitu aku sampai.
“Bos mencarimu,” ujar seseorang di antaranya. Aku pun menuju ruangan yang dituju.
“Aku ingin berhenti,” ucapku tegas.
“Joo Min Kyu! Lama tak bertemu! Kau sehat?” Moon Woo Seok, lelaki keparat itu tak mengindahkan kata-kataku.
“Aku ingin berhenti!” aku berseru lebih keras.
Wajah lelaki itu menjadi tegang, tak menerima bentakan seperti tadi. “Joo Min Kyu. Kau tak pernah bisa memilih, karena kau tidak punya pilihan. Di sinilah pilihanmu satu-satunya.”
Aku menatapnya tajam, meskipun aku tahu itu takkan membuatnya mengabulkan permintaanku. Aku keluar dari satu-satunya ruangan paling bagus di gudang bekas itu sambil membanting pintunya. Beberapa orang di luar menatapku tajam, seolah ingin membunuhku. Tapi aku tak peduli, aku segera meninggalkan gudang itu. Tempat yang paling kubenci di dunia ini.

Aku kembali ke apartemenku, merebahkan tubuhku di tempat tidur yang sudah kutinggalkan selama setahun ini. Aku memjamkan mataku, tapi lagi-lagi… bidadari musim semiku hadir dalam benakku, tersenyum padaku dengan ceria. Semua kenangan-kenangan manisku dengannya tergambarkan dengan jelas di benakku. Lalu semua kenangan manis itu berubah, wajah ceria Je Yoo berubah menjadi penuh kesedihan dan kekecewaan. Ia kecewa padaku, aku tahu. Tatapannya membuat aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku telah membunuh ayahnya.
Saat itu aku ditugaskan untuk menemui seorang pengusaha kecil yang berhutang pada bosku. Begitulah sistem organisasiku, dapat meminjamkan uang dalam jumlah banyak namun nyawa tak mungkin terjamin. Saat itu ayah Je Yoo yang meminjamnya, sudah ditagih ratusan kali orang itu masih terus mengelak sampai akhirnya dikabarkan kabur ke daerah Gwangju. Tentu saja bosku tidak tinggal diam, ia mengutus aku dan beberapa rekanku mengejarnya dan membunuhnya jika memang harus dilakukan. Membunuh sama sekali bukan keinginanku, tapi bisa dikatakan ini jalan hidupku, aku tak punya pilihan lain selain melakukan semua yang diperintahkan padaku.
Singkat cerita, aku yang saat itu menemukannya. Aku sama sekali tak tahu targetku adalah ayah dari Je Yoo, dan tepat saat aku membunuh orang itu, Je Yoo datang. Di sana hanya ada aku, Je Yoo dan Tuan Han yang sudah sekarat. Je Yoo melihat dengan jelas semua kejadiannya. Melihat dengan jelas aku mengotori tanganku dengan membunuh ayahnya. Ia menatapku penuh kekecewaan, seakan tak pernah ingin memaafkan diriku. Aku pantas mendapatkannya. Rasanya ingin sekali aku mati karena telah menyakiti perasaan orang yang kucintai.
Aku bangkit dari tidurku. Nafasku terengah-engah hanya memikirkan semua yang telah terjadi selama ini.

Aku kembali ke studio itu, hari itu sepi sekali. Aku mencari sosoknya di sekeliling studio, tapi tak juga kutemukan.
“Jwisonghamnida~”
Aku berbalik. Bidadari musim semiku, Han Je Yoo, berdiri tepat di depanku. Jarak kami begitu dekat. Ia pun nampaknya begitu terkejut ketika melihatku. Wajah cerianya saat menyapaku tadi langsung berubah. Tatapannya… aku tak dapat mengartikan. Apakah dia sedih, senang, rindu, atau kecewa?
“Min Kyu oppa?” panggilnya dengan lirih.
Aku berusaha tersenyum sewajar dan senormal mungkin. Perlahan tangannya terangkat dan mengelus pipiku, aku memejamkan mataku merasakan sentuhannya yang selama ini begitu kurindukan. Aku berharap ini semua bukanlah mimpi dan halusinasi belaka. Aku membuka mataku, dia masih ada, menatapku sambil tersenyum.
“Kabar yang kudengar oppa sudah meninggal…” ujarnya, ia terlihat begitu sedih.
Lalu kupeluk tubuh mungil bidadariku, melepaskan kerinduan yang begitu mendalam padanya, perlahan ia pun balas memelukku.
“Aku masih hidup kok,” ucapku pelan.

“Ya! Joo Min Kyu!” beberapa orang tiba-tiba masuk ke dalam studio, menghentikan kebersamaanku dengan Je Yoo. Aku menggeram kesal. Aku tak ingin melibatkan Je Yoo lagi dalam masalahku.
Aku menarik Je Yoo ke belakangku, melindunginya. “Mau apa kalian?”
“Kau sudah 3 kali mengabaikan bos! Temui bos segera!” ujar salah seorang yang berbadan besar.
“Sirheo! Aku tak ingin bergabung lagi dengan manusia-manusia jahanam seperti kalian! Katakan pada bosmu yang keparat itu, aku berhenti!!”
Orang itu mengeluarkan pistolnya dan menodongkan ke arahku, “kau jangan bermain-main!”
“Aku tak peduli!!”
DOORRR!!
“Andwae!!”
Orang-orang itu langsung berhamburan keluar, mereka kabur meninggalkanku dan Je Yoo yang terluka di pelukanku. Rupanya Je Yoo melindungiku, dengan gesit ia membalikkan tubuhku dan membuat tubuhnya sebagai tameng untukku. Jadilah ia yang tertembak di dada kirinya.
Ia tersenyum tulus padaku, “hiduplah dengan baik, oppa. Dan… dengan ini… kau mengetahui perasaanku padamu… selama ini…”

*FIN*

Read part 1

Kling kling…
Bunyi lonceng di pintu membuat Seunghyun menoleh ke arah pintu café, dimana seorang gadis baru saja masuk. Lalu orang itu langsung memeluknya dari belakang.
“Oppa~!!”
“Ya! Minchan-ah, jangan begini. Kau ini membuatku malu saja.” Ujar Seunghyun sambil berusaha melepas tangan Minchan yang melingkar di pinggangnya.
Akhirnya Minchan pun menyerah, ia melepasnya, Seunghyun pun berbalik menatapnya. “Anak nakal,” Seunghyun mencubit hidung Minchan lalu meninggalkannya ke dapur belakang.
“Aahh.. oppa!!” Minchan pun mengikuti Seunghyun.
Minchan dan Seunghyun adalah sepasang kekasih, mereka menjalin cinta selama 6 bulan ini. Pertemuan pertama mereka adalah di tempat ini, di café tempat Seunghyun bekerja sebagai barista. Minchan sedang sedih saat itu, lalu ia datang ke café baru yang berada tidak jauh dari kampusnya. Saat sedang memperhatikan rintik-rintik hujan di kaca yang di sampingnya sambil memikirkan masalahnya, Seunghyun tiba-tiba memberinya secangkir minuman. Minchan mengadahkan kepalanya, sepasang mata tajam tengah menatapnya dengan lembut, Minchan pun melihat name tag yang di pakai Seunghyun di dada kanan bajunya. Choi Seunghyun, barista.
“Jwiseonghamnida, saya tidak suka kopi,” ujar Minchan.
“Kenapa? Pahit?” tanya Seunghyun menebak alasan Minchan, biasanya orang-orang tidak menyukai kopi karena rasa pahitnya.
Minchan mengangguk saja. Meskipun sudah kuliah, Minchan kadang seperti anak-anak yang lebih suka manisnya lolipop dibanding pahitnya kopi.
“Coba saja dulu. Special offer, untuk perempuan termanis yang kutemui hari ini,” Seunghyun tersenyum lalu membungkuk hormat sedikit dan pergi meninggalkan Minchan yang keheranan.

Sejak kejadian itu, Minchan jadi sering mengunjungi café itu. Kopi yang dibuatkan Seunghyun –mungkin tepatnya cappuccino – itu sangat manis, meskipun ada sedikit pahit, tapi Minchan yang selama ini tak pernah menyukai kopi kini sangat menyukai minuman buatan Seunghyun. Karena Minchan sering mengunjungi café, tentunya hal ini melancarkan aksi pendekatan Seunghyun. Ya, Seunghyun sudah menyukai Minchan sejak gadis itu datang ke café dan memandang rintik-rintik hujan di luar dengan sedih. Seunghyun yakin Minchan sedang ada masalah saat itu, maka dari itu Seunghyun memberikannya minuman yang manis secara cuma-cuma.

“Oppa, hari Minggu nanti kita ke Lotte World yuk, aku mau main. Hahh… ujian membuatku gila.” Ujar Minchan yang duduk di kursi yang ada di dapur.
“Aku tak bisa, aku kerja hari itu. Menggantikan Young Bae. Lain hari saja,” sahut Seunghyun tanpa menoleh pada yeojachingunya.
“Oppa…” Minchan memelas.
“Arasseo, sorenya saja. Eotteohke?” kali ini Seunghyun menatapnya.
“Ne… gomawo!” Minchan tersenyum senang.

Sabtu.
“Minchan!”
Minchan membuka pintu kamarnya. “Ne, umma. Wae?”
“Ayo siap-siap.” Ujar ummanya.
“Siap-siap kemana?” tanya Minchan heran.
“Ke rumah rekan kerja ayahmu, ada undangan makan malam. Berdandan yang cantik ya.” Ummanya membelai rambut Minchan.
“Kenapa aku harus ikut?” tanya Minchan. Padahal kalau saja ia tidak pelu ikut maka malam minggu ini telepon rumah sepenuhnya miliknya dan ia bisa menelepon Seunghyun berjam-jam.
“Kau harus ikut pokoknya.”
“Ah umma… arasseo, aku ikut.”

Minchan diperkenalkan pada Cho Kyuhyun, anak sulung dari keluarga Cho, rekan kerja ayahnya itu. Kyuhyun seorang lelaki bertubuh tinggi, tampan, dan memiliki senyuman yang mampu memikat banyak hati perempuan. Minchan akui Kyuhyun memang tampan, tapi Minchan tidak merasakan perasaan seperti yang ia rasakan pada Seunghyun. Minchan merasa lebih nyaman ditatap kedua mata tajam Seunghyun dibanding sepasang mata lembut Kyuhyun.
Tak Minchan sangka, setelah makan malam, orang tua Minchan dan orang tua Kyuhyun tiba-tiba merencanakan secara sepihak perjodohan kedua anak mereka. Minchan benar-benar terkejut, mau menolak mentah-mentah saat itu, tidak enak juga, masa di rumah orang ia harus marah-marah? Herannya, Kyuhyun tampak menerima semua ini. Ia mengangguk sambil tersenyum senang menanggapi pertanyaan kedua orang tua Minchan apakah Kyuhyun mau menikah dengan Minchan atau tidak.
***

“Appa! Tolonglah, ini bukan zaman Siti Nurbaya!” teriak Minchan hari Minggu pagi di ruang kerja appa nya. *a/n: sejak kapan di Korea ada Siti Nurbaya?*
Appanya yang sedang membaca koran hari Minggu itu melipat korannya, “Minchan-ah… bagaimana lagi? Appa dan Tuan Cho sudah merencanakannya sejak—“
“tapi mengapa appa tak pernah mengatakannya padaku? Mengapa appa tak pernah menanyakan padaku apakah aku setuju atau tidak?” nada suara Minchan masih terdengar marah.
“Ya sudah, Minchan-ah… Kyuhyun itu anaknya baik, pintar, dia juga tampan. Kenapa kau tidak mau dengannya?” tanya appanya, “lagipula kau kan tidak punya pacar. Appa tidak salah memilih, bukan?”
Minchan menghembuskan nafasnya. Kedua orang tuanya tidak tahu ia pacaran dengan Seunghyun. Bisa dikarantina seumur hidup jika orang tuanya mengetahui ia pacaran dengan barista yang hidupnya pun pas-pasan. Tapi Minchan tak pernah mempedulikan keadaan Seunghyun seperti apa, karena Minchan mencintai Seunghyun.
“Ya, Kyuhyun memang… dia tampan. Tapi aku… aku tidak… aku tidak mencintainya, appa.” Minchan berusaha mencari alasan untuk menghidar dari perjodohan.
“Cinta itu bisa tumbuh, Minchan. Sudahlah, appa tak ingin mendengar ocehanmu itu. Sekarang lebih baik kau bersiap-siap, karena sebentar lagi Kyuhyun akan menjemputmu dan mengajakmu jalan-jalan. Kau butuh refreshing setelah ujian, bukan?” appanya mulai membuka lipatan korannya lagi dan siap membaca berita-beritanya. Sementara Minchan memandang appanya tak percaya.
“Appa! Kenapa bisa-bisanya appa memutuskan sendiri lagi? Lagipula, kenapa tidak Yunho oppa saja yang dijodohkan? Kenapa harus aku?” Minchan masih ingin membuat appanya membatalkan perjodohannya dengan Cho Kyuhyun. Ia juga heran, padahal kakak laki-lakinya saja, Jung Yunho, tidak dijodohkan, tapi mengapa nasibnya berbeda?
“Sudahlah, nanti saja kita bicarakan lagi. Kau bilang kau tidak mencintai Kyuhyun kan? Maka dari itu kau cobalah mengenalnya dulu. Belum juga kau mengenalnya kau sudah menolak. Ayo, keluarlah dan bersiap-siap.”
Dengan langkah lunglai Minchan keluar dari ruang kerja appanya. Pikirannya berkecamuk memikirkan semua yang terjadi tiba-tiba ini. Tiba-tiba Minchan teringat janjinya dengan Seunghyun sore ini. Ingin rasanya ia segera menghambur ke pelukan sang kekasih dan mencurahkan semua kekesalan hatinya, tapi ia pun sebenarnya bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

Siang itu Minchan memutuskan pergi dengan Kyuhyun. Karena mau tak mau ia memang harus pergi, Kyuhyun langsung menjemputnya di rumah. Akhirnya dengan berat hati Minchan menghubungi Seunghyun dan membatalkan acara kencan mereka.

“Gwaenchanayo?” tanya Kyuhyun lembut. Selama di mobil, Minchan hanya diam dan menatap kosong keluar jendela.
Perlahan Minchan menoleh ke arah namja yang sedang menyetir dan sesekal melihat ke arahnya dengan tatapan khawatir. “Ne, gwaenchana.” Jawab Minchan. Sebisa mungkin ia memaksakan bibirnya tersenyum agar Kyuhyun tidak khawatir dan tidak perlu menghujaninya pertanyaan-pertanyaan karena kekhawatirannya.

“Kyuhyun-ssi…” panggil Minchan pelan.
“Ye?” Kyuhyun menatap yeoja di depannya. Kini mereka sedang makan siang di sebuah restoran mahal.
“Kenapa kau menyetujui perjodohan kita? Kau kan tampan, pintar, mungkin banyak perempuan yang lebih cantik dariku yang bisa menggugah perasaanmu dan—“
“Aniyo,” jawab Kyuhyun singkat sebelum Minchan menyelesaikan kata-katanya. Lalu ia lanjutkan, “niga saranghaeyo ttaemune.” ujarnya mantap. *a/n: SUMPAH ngasal abis, jangan dipercaya! Prediksi, artinya = because I love you*
Minchan yang tadinya hampir saja bicara, mengatupkan kembali bibirnya. Setengah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Kyuhyun mencintainya? Tidak mungkin! Bertemu saja baru kemarin.
“Hahaha… mungkin kau heran,” tawa Kyuhyun cukup membuat Minchan mengartikan bahwa Kyuhyun hanya mempermainkannya saja. “Tapi aku sudah mengenalmu sejak lama.”
Minchan menatap Kyuhyun heran. Kyuhyun tersenyum padanya.
“Aku—“ belum sempat Kyuhyun menjelaskan pada Minchan, tiba-tiba ponsel Minchan berdering.
Girl, you’re my lollipop oh girl
Oh my lolli lolli, girl…
“Jamkkanman,” ujar Minchan, lalu ia bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh dari Kyuhyun. Minchan tahu jelas siapa yang meneleponnya.
Minchan tiba-tiba sedikit merasa bersalah. Baru saja seorang lelaki –tampan pula– menyatakan cinta padanya. Dan tak dipungkiri, Minchan sedikit senang, tapi tiba-tiba Seunghyun meneleponnya. Seolah Seunghyun mengetahui apa yang terjadi barusan.
“Yeoboseyo? Oppa??”
“Ne, jagi… kau sedang sibuk?” tanya Seunghyun di seberang sana.
“Ah? Aniyo. Waeyo?” Minchan tidak berbohong, bukan? Ia memang tidak sibuk, meskipun ia sedang bersama lelaki lain, dan lelaki ini adalah calon suaminya.
“Ani. Hanya saja aku rindu padamu. Bogoshipeoyo. Aku sedih kau membatalkan kencan kita, padahal aku sangat ingin berduaan denganmu.”
Tiba-tiba Minchan merasa tidak enak. Tapi ia juga memang sangat ingin bertemu dengan Seunghyun saat ini. Entahlah untuk apa, yang pasti ia membutuhkan Seunghyun saat ini. “Oppa… aku ke tempatmu ya sekarang…” ucap Minchan pelan.
“Boleh. Kau bilang kau tidak bisa hari ini?”
“Aniyo. Tadi appa memang menyuruhku pergi ke suatu tempat, sekarang aku bisa kok.”
“Baiklah, aku menunggumu, jagiya…”

“Minchan-ssi… kau boleh tanyakan padaku apapun yang mau kau tahu dari diriku,” ujar Kyuhyun tak lama setelah Minchan mengangkat telepon dari Seunghyun.
Minchan hanya menatap Kyuhyun heran. Terlalu banyak hal yang ia pikirkan, ia jadi bingung sendiri jadinya.
“Kita kan harus saling mengenal. Aku akan menjawab sejujur-jujurnya apapun pertanyaanmu. Aku mau kau mengenalku dengan baik, dan aku juga ingin mengenalmu, Minchan-ssi.” Kyuhyun tersenyum.
“Kenapa harus buru-buru, Kyuhyun-ssi? Aku saja belum lulus kuliah…” ujar Minchan.
“Bukan begitu. Paling tidak sebelum tunangan aku tahu sedikit banyak tentang dirimu, mungkin tentang—“
“Mwoya?” Minchan tersentak. “Maksudku, apa yang kau katakan tadi? Tunangan?”
“Ne, memangnya appamu tidak cerita ya? AKu tahu ini memang terlalu cepat. Tapi orangtua kita benar-benar tak sabar. Kita akan ditunangkan 2 minggu lagi. Ya, tapi kau tenang saja, ini hanya tunangan dan aku—“
Minchan sudah tak mampu mencerna kata-kata Kyuhyun. Semua benar-benar terjadi begitu saja dan dalam waktu yang sangat cepat. Baru saja tadi malam ia mendengar bahwa ia akan dijodohkan, sekarang ia akan ditunangkan dengan lelaki yang bahkan mengenalnya saja belum sampai 24 jam.
“Kyuhyun-ssi. Jwiseonghamnida, tapi… aku harus pergi, aku… aku ada perlu ke suatu tempat.” Minchan bangkit dan membawa tasnya.
“Biar kuantar saja.” Tawar Kyuhyun.
“Tidak, tidak usah. Aku sendiri saja. Sudah ya, aku buru-buru.” Minchan segera melangkah pergi dari restoran itu meninggalkan Kyuhyun yang terbengong-bengong sendiri.

Begitu melihat sosok Seunghyun di dapur yang kebetulan sedang mengobrol dengan Young Bae, Minchan langsung memeluk namja itu. Tak peduli Seunghyun terdorong dan hampir jatuh karenanya, yang Minchan butuhkan hanyalah seorang Choi Seunghyun saat ini.
“Aw.. kau ini, kebiasaan.” Ujar Seunghyun yang berusaha melepaskan diri dari Minchan, tidak enak bermesra-mesraan di depan orang lain. Tepatnya, Seunghyun tidak menyukai hal seperti itu.
Minchan menatap Seunghyun dengan tatapan memelas, mungkin lebih seperti anjing yang dibuang dan meminta untuk dipungut.
“Kau kenapa?” tanya Seunghyun lembut.
“Sebaiknya kau pergilah dengan Minchan. Biar aku yang menggantikanmu disini.” Ujar Young Bae.
“Ne, gomawoyo.”

Seunghyun keluar dari kamarnya. Bajunya sudah berganti menjadi lebih rapi, rambutnya diberi gel dan ditata rapi, juga wangi parfum menguar dari tubuh tinggi tegapnya itu. Ia tersenyum pada Minchan yang menunggunya di luar kamarnya. Setelah dari café, Seunghyun pulang dulu ke rumah kontrakan kecilnya yang tak jauh dari café untuk sekedar berganti pakaian. Tentu saja untuk pergi kencan dengan yeojachingu yang dicintainya, ia harus lebih rapi.
Minchan sedang duduk melamun sambil menopang dagu di meja ruang tengah Seunghyun. Seunghyun duduk di samping Minchan.
“Waeyo, sweetheart?” tanya Seunghyun sambil mengusap lembut rambut Minchan.
“Eh… oppa…” Minchan kaget tiba-tiba Seunghyun sudah di sampingnya. “Kau… tampan sekali…” Minchan tersenyum. “Aku hanya pakai baju biasa,” Minchan memperhatikan baju yang dipakainya sendiri.
“Gwaenchana. Seperti apapun kau tetap cantik. Kkaja!”

Semua kegalauan hati Minchan hilang begitu saja saat ia dengan Seunghyun. Minchan benar-benar lupa mengenai perjodohan dan pertunangan tiba-tibanya itu. Tadi sempat terlintas mengatakan semua permasalahannya pada Seunghyun ketika mereka masih di rumah Seunghyun. Namun Minchan mengurungkan niatnya, ia tidak ingin membuat Seunghyun bersedih. Ia akan coba usahakan sendiri dulu, mungkin saja ia bisa membatalkan pertunangan konyol itu.
Minchan sangat mengenal Seunghyun, jika saja ia menceritakannya pada Seunghyun, mungkin yang ada Seunghyun malah menyuruhnya untuk benar-benar tunangan dengan Cho Kyuhyun itu. Seunghyun memang mencintai Minchan, tapi masih belum berani menyatakan cintanya terang-terangan pada keluarga Minchan, ia merasa belum pantas untuk Minchan.

Minchan duduk di sofa di samping kakak laki-lakinya, Jung Yunho, yang sedang membaca komik di tangan kirinya dan mebawa buah apel di tangan kanannya.
“Oppa. Kenapa harus aku yang jadi tumbal? Kenapa tidak kau saja yang dijodohkan?” gerutu Minchan.
Yunho menoleh ke adiknya, “karena appa tahu aku ini senang berganti-ganti pacar, sedangkan kau? Tidak ada satu lelakipun yang pernah kau kenalkan pada keluarga ini. Tentu saja appa khawatir kau tidak bisa mendapatkannya, maka dari itu– aaww!” Minchan tiba-tiba mencubit lengan Yunho.
“Justru karena itu, sikap playboy-mu itu harus diperbaiki, jadi harusnya kau!”
“Minnie, dengarkan aku.” Yunho membenarkan posisi duduknya, tampangnya jadi lebih serius kali ini. Ia tampak ragu memulai pembicaraan, namun akhirnya ia bicara juga, “appa… appa meminjam uang dalam jumlah besar pada tuan Cho itu, usaha appa hampir bangkrut. Jadi—“
“Jadi appa menjualku?” tanya Minchan kaget.
**end of part 1.

“Bukan begitu. Tuan Cho mengatakan ia menginginkanmu menjadi menantunya, sebenarnya ini bukan syarat peminjaman uang itu. Tapi appa merasa tak enak dengan tuan Cho sehingga ia pun setuju dengan usul tuan Cho untuk menjodohkan kau dengan Kyuhyun. Lagipula, kalau dilihat-lihat, dia oke juga kan? Dia anaknya baik, tidak playboy sepertiku, pintar, tampan juga.. meskipun oppamu ini lebih tampan. Appa berpikir mungkin kau mau dengan pria seperti Kyu. Begitulah.”
Minchan kaget juga dengan kenyataan yang baru ia dengar. Tak ia sangka appa mau melakukan itu padanya.
“Minchan, oppa bukannya mendukung appa. Tapi oppa rasa tak ada salahnya menerima Kyu. Sekarang keadaannya memang sudah terlanjur, oppa dengar tuan Cho itu meskipun baik, kalau sudah marah ia menyeramkan juga, bisa-bisa peminjaman uang itu dibatalkan. Kau tidak mau kan melihat appamu stress karena bangkrut. Ayolah, Kyu bukan pilihan yang buruk.”
Minchan memikirkan kata-kata oppanya, Kyu memang bukan pilihan yang buruk, tapi ia mencintai Seunghyun. Perlu ditekankan, ia hanya mencintai Seunghyun. Tapi Minchan juga harus memikirkan keadaan keluarganya. Sekarang nasib semua anggota keluarganya ada pada dirinya.

Minchan tak mengatakan apapun saat semua orang –appa, umma, dan oppanya– sibuk mempersiapkan semua hal untuk pertunangannya. Ia tak membantah, tapi juga tak membantu. Ia sudah terlalu malas, biarlah semua terjadi begitu saja.
Tepat seminggu lagi pertunangannya akan dilaksanakan. Selama beberapa hari ini Minchan tak menemui Seunghyun, tak menghubungi bahkan tak membiarkan Seunghyun menghubunginya.

Kling kling…
Untuk kesekian kalinya Seunghyun menoleh ke arah pintu masuk café. Namun sosok yang ditunggunya, yang dinantinya, yang dirindukannya tak kunjung datang. Sudah beberapa hari Minchan tak ada kabar, dihubungi pun tak bisa. Ia khawatir sekali, tak pernah Minchan seperti ini.

Minchan mematut dirinya di depan cermin. Tampak seorang gadis dengan gaun sederhana berwarna putih. Sedikit polesan make up di wajahnya menambah kecantikannya, namun sayang, tak ada senyuman di wajahnya. Hari ini hari pertunangan Minchan dan Kyuhyun. Pesta bertema garden party ini dilaksanakan di halaman rumah Minchan. Ia tak menyangka jalan hidupnya berakhir seperti ini, bertunangan dengan orang yang bahkan tidak ia cintai. Minchan pun tak pernah memberi kabar pada Seunghyun.

Pesta baru berlangsung sekitar 15 menit, acara pertunangan belum dilaksanakan, tiba-tiba Cho Jeyoo, adik Kyuhyun menghampirinya yang sedang membawa kue kecil di meja.
“Unni…” sapa Jeyoo.
“Eh, Jeyoo, waeyo?” Minchan tentu sudah mengenal keluarga Kyuhyun selama ini, dan ia pun cukup dekat dengan Jeyoo.
“Unni yakin akan bertunangan dengan oppa?” tanya Jeyoo. Sepertinya Jeyoo mengetahui kebimbangannya. Kalau ia sepenuhnya menerima semua ini, harusnya Minchan terlihat begitu bahagia sejak kemarin, tapi raut kebahagian tak jua nampak di wajahnya. Jeyoo tahu Minchan tidak mencintai oppanya.
Minchan mengangguk menanggapi pertanyaan Jeyoo.
Blaarr! Blaarr!!
Langit memang sudah mendung sejak tadi, kini kilat pun bergemuruh, cahayanya bagai membelah langit yang mulai gelap itu.
Tes… tes… tes…
Perlahan setetes demi setetes air hujan mulai turun membasahi bumi. Langsung terjadi keributan di pesta itu, semua tamu langsung diungsikan ke dalam rumah, karena kebetulan pihak penyelenggara pesta tidak menyediakan tenda di luar rumah, hanya tenda untuk makanan saja.
Hujan diluar semakin deras, tuan Jung maupun tuan Cho kebingungan dengan kejadian tiba-tiba ini. Namun semua langsung diatur. Pertunangan Kyuhyun dan Minchan akan dilaksanakan di dalam rumah saja.
“Minchan-ssi…” Minchan menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ternyata teman dekatnya di kampus.
Perempuan itu mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Minchan, “Seunghyun di sini, sekarang dia di luar.”
“Eh, mwo??” Minchan terkejut, bagaimana bisa Seunghyun tiba-tiba berada di luar rumahnya? Kenapa harus kebetulan begini? “Tapi kan… hujan…”
“Dia hanya menatap rumahmu dengan pandangan kosong. Dia basah kuyup kehujanan di luar sana.”
Tanpa berkata apapun, Minchan langsung pergi dari situ, panggilan temannya tak dipedulikan lagi olehnya. Minchan menembus hujan dan mengejar Seunghyun.
Begitu keluar dari gerbang rumahnya, benar saja, ia melihat Seunghyun tengah berjalan gontai di tengah derasnya hujan, pergi menjauh dari rumah Minchan. Minchan menatap punggung yang menjauh itu. Entah merelakannya pergi atau ingin meratapi kepedihannya karena tak mampu membuat Seunghyun kembali padanya. Tidak, ia tidak mungkin sanggup kehilangan orang itu. Seunghyun terlalu berarti baginya,
“Oppa!” teriak Minchan masih tak bergerak dari tempatnya, sekitar beberapa meter dari Seunghyun.
Seunghyun berhenti berjalan, baginya panggilan itu bagai mimpi, ia ingin menoleh tapi terlalu takut dengan kenyataan bahwa ia telah kehilangan gadisnya. Tapi akhirnya ia menyerah, ia berbalik.
Minchan berlari ke arah Seunghyun dan langsung menghambur ke pelukannya. Mereka berdua basah kuyup, berpelukan di tengah derasnya hujan. Dua minggu bagai seabad bagi Seunghyun, ia benar-benar merindukan Minchan, tapi di hari itu ia malah dengar kabar Minchan akan bertunangan dengan orang lain, Seunghyun yang tak percaya berita itu bermaksud memastikannya dengan mendatangi rumah Minchan, tapi yang ia lihat benar-benar kenyataan. Hatinya benar-benar hancur, ia tak peduli lagi seluruh tubuhnya basah karena hujan, ia sudah mati rasa. Minchan-nya, kini dimiliki orang lain.
Waktu bagai terhenti, dunia bagaikan hanya miliknya dan Minchan saat ini. Minchan mendekapnya erat seperti tak ingin kehilangan dirinya. Seunghyun pun membalas pelukan Minchan.
“Niga… niga animyeon andwae, oppa.” ucap Minchan di pelukan Seunghyun, Minchan mendongak menatap Seunghyun. “Mianhanda, oppa… Neo, hanaman… saranghanikka…” lirihnya. *a/n: all Korean words taken from ‘It Has To Be You’ by Yesung (OST. Cinderella’s Sister). Artinya: Kau… aku nggak bisa kalau bukan kau, oppa. Maaf, oppa… Kau, satu2nya… yang kucintai*
“Minchan-ssi.” Seketika atmosfer cinta di antara mereka mulai memudar. Minchan yang masih melingkarkan tangannya pada pinggang Seunghyun tersentak dengan panggilan itu. Ia berbalik dan menemukan Kyuhyun sambil membawa payung di tangannya. Wajahnya terlihat sangat sedih dan kecewa.

Minchan sudah berganti baju, begitu juga Seunghyun. Kini mereka duduk di ruang kerja appa Minchan, semua berkumpul di sana. Tuan Cho dan istrinya, umma dan appa Minchan, Minchan, Seunghyun, Kyuhyun, Jeyoo, juga Yunho.
“Appa… batalkan saja pertunanganku.” Kyuhyun yang pertama memecah keheningan di ruangan itu.
“Kyu, kau kan mencintai Minchan… appa tidak ingin kau–“
“Gwaenchana appa.” Kyuhyun tersenyum pada appanya. Minchan menatap Kyuhyun, bingung apa yang harus dilakukannya.
“Unni, oppa tahu unni sudah lama, dari dulu oppa mencintai unni–“ Jeyoo ikut berbicara.
“Je…”
“oppa saja yang tak pernah berani mendekati unni.” Jeyoo menatap tajam oppanya.
Minchan semakin bingung dengan keadaan seperti ini, ia menatap Seunghyun, tapi Seunghyun juga malah menatapnya dengan bingung juga.
“Aku akan lebih senang jika Minchan bahagia. Aku tak mau Minchan di sampingku tapi tidak bahagia, aku tahu Minchan sangat mencintai namja itu. Jebal, appa…” Kyuhyun memohon pada appanya.
“Hhh… baiklah jika itu yang kau mau. Jangan menyesal atas keputusanmu, Kyu.” Sahut tuan Cho. Kyuhyun pun mengangguk.
“Tuan Cho, maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu kalau Minchan sudah punya pacar. Saya benar-benar menyesal, tuan Cho.” Tuan Jung, appa Minchan jadi merasa tidak enak dengan semuanya. Salahnya juga karena tak pernah memperhatikan anaknya.
“Sudahlah Tuan Jung, ini bukan salah anda.” Ujar tuan Cho. “Ah, masalah peminjaman itu, tenang saja. Perjanjian kita tetap jadi.”
Appa Minchan memang merasa lega, tapi tetap merasa bersalah pada tuan Cho.
“Ehm…” Yunho tiba-tiba berdehem. Memecah keheningan yang tiba-tiba menyelimuti mereka. “Tuan Cho, masihkah mau menerima tuan Jung sebagai besan anda?” tanya Yunho tiba-tiba. Semua memandang ke arah Yunho.
“Mak… maksud anda?” tuan Cho heran.
“Pesta ini sudah terlanjur dilaksanakan. Para tamu masih menunggu di luar sana. MC pun mungkin sudah bingung menghadapi para tamu. Alangkah baiknya pesta ini tetap dilaksankan, pertunangannya maksudku.” Yunho tersenyum.
Minchan menatap oppanya heran. Bagaimana bisa? Ia harus pura-pura bertunangan dengan Kyuhyun?
“Tapi…”
“Bukan Minchan dan Kyuhyun. Biar aku saja dengan Jeyoo.” Yunho tersenyum sambil memandang Jeyoo. Jeyoo hanya menunduk menyembunyikan mukanya yang memerah.
“Ehh??” Semua yang di ruangan itu kaget.
“Oppa! Kau gila! Dasar playboy! Bagaimana pacar-pacarmu yang lain, hah? Aniyo, aku tak setuju, Jeyoo anak baik-baik, jangan kau permainkan!” Minchan protes.
“Hey… hey… kau saja yang tak tahu. Siapa bilang aku baru bertemu dengan Jeyoo? Aku sudah lama kenal dengannya, tapi aku tak pernah tahu ternyata dia adik Kyuhyun. Dan aku… sudah lama menyukainya.” Yunho tersenyum lagi pada Jeyoo. Jeyoo pun tampak malu-malu.
“J, dia ini playboy, kau jangan percaya kata-katanya…” Minchan masih bersikeras meyakinkan Jeyoo.
“Aku tahu, unni. Yunho oppa sunbae-ku saat SMA, dan aku… menyukainya sejak dulu.”
“Dongsaeng-ah… tenang saja, dari dulu targetku adalah Cho Jeyoo, aku juga menyukainya sejak dulu. Dan aku akan mengakhiri kehidupan playboy-ku.” Yunho mendekati Jeyoo dan memeluk pinggang gadis itu.
“Tuan Cho, nyonya Cho, izinkan saya bertunangan dengan Jeyoo hari ini juga.” Umma dan appa Jeyoo saling bertatapan, mereka tak mampu menolak lagi dan hanya tersenyum pada pasangan itu.
“Umma, appa, Yunho ingin bertunangan dengan Jeyoo,” kali ini Yunho meminta restu orang tuanya.
“Kalau itu maumu dan membuatmu bahagia, dan kalau Jeyoo mau menerimamu, appa setuju saja.”

Pesta pertunangan itu jadi berganti pasangan dari mulanya Minchan dan Kyuhyun kini jadi Jeyoo dan Yunho. Minchan dan Seunghyun menyaksikan pertunangan itu sambil berpegangan tangan. Kali ini perasaan Minchan sudah lega, orang tuanya sudah menyetujui hubungannya dengan Seunghyun. Minchan benar-benar bahagia.
“Jagiya…” panggil Seunghyun.
Minchan mendongakkan kepalanya pada namja di sebelahnya. “Hm?”
“Saranghae…” Minchan tak menginginkan ucapan cinta dari siapapun lagi selain dari Seunghyun, dengan suara beratnya, dengan tatapan penuh cintanya. Seunghyun benar-benar tak tergantikan.
“Na do, saranghaeyo, oppa.” Minchan tersenyum.
Seunghyun menurunkan wajahnya, tinggal beberapa senti lagi bibirnya menyentuh bibir Minchan…
“STOP!”
Seunghyun buru-buru berdiri tegap lagi, Minchan menoleh ke arah si pengganggu. “Oppa!!!” teriak Minchan geram.
“Andwae! Sebelum kau, aku dulu!” lalu secepat kilat Yunho menarik tangan Jeyoo menghadap dirinya, menyentuh wajah Jeyoo, dan langsung menciumnya, tepat di bibir Jeyoo.
“Aiisshh… jinjja!” Minchan kesal lalu menarik Seunghyun keluar dari rumahnya. Setelah itu, apa yang terjadi? Na do… mollasseo~~ XD *author dibakar readers*.

===THE END===

Chapter 4 – Gravity
“It’s about how even if your body might not realize it, your heart can be pulled towards the person you love.” – Hwanhee

Soundtracks:
Wasurenaide – Tohoshinki
Gravity – Fly To The Sky
W – JYJ

Read Chapter 3
Read Chapter 2
Read Chapter 1

Jaejoong’s POV

I want to see you, see you
I want to see you, see you, see you
(W – JYJ)

Honestly, I never thought about forgetting Yunho or asked him to forget me. If only when I saw him drunk and told him to forget me he was conscious and refused it, I would definitely never ask him again to forget me. So that’s why when he asked me to never speak about it again I only obeyed him. I know I was stupid before, but I didn’t want to see him suffering because of me.
I heard that TVXQ will comeback. Of course with only their 2 members left. Yunho always called me and reported me everything he spent in a day. But after their comeback, I thought he was busy so he rarely called me. I’m okay with that.
But, it’s been 2 weeks. He never called me again. I wondered what happened to him. I tried to call him but he didn’t pick up. I sent him some texts, but he didn’t reply me back. I’m worried. If he’s busy, he would tell me so there won’t be any misunderstanding between us. But… he was just like… disappear.
Oh, I missed him so much. I wanted to see him…

Ring~ Ring~
I grabbed my cellphone that was placed at the table once it was ringing. I knew who the caller was. My lips formed a smile and cleared my throat before I pushed the answer button.
“Yoboseyo?” I tried to use cold tone, I was pretending to be angry to him because he didn’t call me and he was ignoring me for years (okay, for these 2 weeks).
“Jaejoong,” I frowned. What’s wrong with him? His voice is different than usual. Even he called me ‘Jaejoong’. Usually he called me ‘Jae’ or ‘Joongie’ or… ‘Boojae’.
“Yeah?”
“I… I’ve thought about something. I’m sorry for not calling you for these 2 weeks. I was thinking about something.” His voice is more serious now. I wondered why.
“Oh… okay. What was that?”
“I… I think we can’t be together again. It’s over. We’re over.”
“Huh? What… does it mean? Are you kidding me?” I was shocked that suddenly he said that. I can’t believe he said that.
“No, Jaejoong-ah. I’m serious. I…”
“Who asked you to say this? Yunho, I know you love me and you wouldn’t say something like this. Unless… there was something wrong. Tell me, Yunho…” I bit my lip, I believed in his love, but it still felt hurt.
“Nothing was wrong here. I just want to end up this with you,”
“Do you love me?”
“I do, Jae. But…”
“Then, why?”
“I just thought that we can’t make it, Jae. We can’t be together. It’s for your own good, for our career. Please, understand it Jae.”
“I can’t!” I yelled. “I can’t understand. Then how about us? Five of us?” Tears fell down on my cheeks. “I’m… I’m okay if you want to break up. But we still can be together as TVXQ, right?” This is my only hope. As long as I’m with him, I’m alright if he wanted to break up.
“I… don’t think so, Jae.” I felt my heart broke into pieces as I heard his voice. I lost my soul, that’s what I felt.
“Now I’m comfortable with Changmin, only two of us. You… good luck with JYJ. I… I still love you Jae, but we know we’re in different world now and we know it’d be hard for two of us. We have to move on, Jae.”
I can’t believe Yunho would be able to say those words. Is that… really Yunho? Did he mean it?
“I’m sorry, Jaejoong. I hang up. Bye.” He hung up first. And I started to cry, all night.
***

Our paths will cross again, I am thinking about you every time I close my eyes, you’re everything
It is still natural that you are by our side
We will keep your place here, until the day we can meet again
We believe that we can laugh together with you once again
(W – JYJ)

“What? Really? Oh, okay. I’ll tell the boys.”
“What’s up, hyung?” I heard my manager talked in phone and he looked so happy and excited. I thought he just got good news.
“Nothing.” He smiled. “It’s just that you guys will work harder,” he said as Yoochun and Junsu approached us. He patted my shoulder and smiled then he went away to pick up another phone call. Yoochun and Junsu looked at me, but I also didn’t know what actually our manager meant by that.
We were in NII photoshoot now. It’s our lunch time. I saw Junsu were having fun with Yoochun. I smiled as I saw them laughed together. This was what always happen in every our photoshoot. We, five of us, were always joking around during break time. Our schedule was very tight, so we’re just taking the break time for having fun.
I still clearly remember when Yunho would usually get mad because when the photoshoot will start again but YooSuMin were still joking around. And I’ll be the one who calmed him. My lips formed a smile, but without I realized a tear fell down on my cheek. It’s been a month since Yunho said those hurtful words that TVXQ won’t ever be 5 again.
That wouldn’t happen again, would it? So… we’ll just separate like this?
I won’t let it happen. Yoochun, Junsu, and I will always keep their place until we can become together again. We believe we can laugh together again. So, I will fight for our group even though I have to give up the love of my life. If the leader couldn’t make us become together again, then me, as the oldest in group, will make TVXQ as 5 again.
***

“Hyung!” I knew it was Junsu who called me. I looked back at him. We’re just finished the photoshoot and we’re headed to our apartment.
“What’s wrong? Just talk it in the van,” I said as I jumped into the van first. Yoochun was already there.
“Hyung, Changmin called me last night.” He said as he closed van’s door. I frowned. “He was worried about you.”
Ring~ Ring~
“Ah! This is Changmin!” Junsu screamed. He picked up the phone.
“Changmin-ah!” Ah, he and his dolphin voice again. I guessed Changmin took away the phone from his ear.
“What? Okay. Wait for a while.” Junsu said. I didn’t know what they’re talking about.
Junsu asked the driver to go out of the van for a few minutes. We were still in the van waited for our manager who seemed busy with his hundreds phone calls. So it’s just three of us in the van and Junsu pressed the loudspeaker button.
“Jaejoong hyung!”
“Yes, Changminnie. Annyeong,”
“Yoochun hyung, you’re there?” he asked again.
“Yes, how are you?”
“I’m fine. I just want to talk something important for all of you.”
We just kept silent, looking each other. Then Changmin continued. “Yunho hyung… he’s…” Changmin stopped. I heard he was sobbing.
“Changmin-ah, don’t cry. Just tell me what happened.” Junsu said, he looked worry.
I felt uneasy as I heard Changmin said that name.
“Jae hyung… you broke up with him, right? You know what? When he called you… he was in sajangnim’s office!” He sobbed again. He knew who that sajangnim is, it’s Kim Youngmin. He knew something was wrong.
“He was forced to break you up! In front of him!” I cried as I heard him say that. Junsu who was sitting next to me hug me tightly. Yoochun held my hand.
“I was peeking in front of sajangnim’s office, thanks God her secretary wasn’t there that time. I wanted to barge in, but I know the situation will be worse. After that, I asked Yunho hyung what made him to break you up, but he didn’t want to give any answer. He… he just smiled and assured me that everything’s gonna be okay. But I’m sure there was something behind this all.” Changmin took a deep breath before he continued his story. I was just silent and sobbed.
“Mianhanda hyungdeul… but I just know it yesterday. Yunho hyung… he did that because…” He sobbed. “Because he wanted to protect JYJ. Sajangnim threatened him if he wasn’t able to break you up in front of him. JYJ’s activities would get banned in all TV stations. You know, now all your activities were got banned in some TV stations, and he would make it worse. So… Yunho hyung sacrificed his love… and… he even agreed to have scandal with Ara noona for our next MV…”
“Babo Yunho…” I said between my sobs. I didn’t understand what is in Yunho’s head. Why did he make it hard for us?
“He… he shouldn’t have done that…” Junsu said as he wiped his tears.
“Hyung, do you have something to say to Yunho hyung? We wanted to see you all, but… our tight schedule, you know that. I’ll deliver it hyung.” Changmin said. He wasn’t sobbing again now.
“Tell Yunho hyung to not worry about us. We’ll be alright. And tell him to not do something like this. It would hurt us too. And Jaejoong hyung the most.” Yoochun said.
“Changmin-ah… just tell him I’m… waiting for him.” I wiped my tears. Now I know what I want to do. I’ll definitely fight for being together again other 4 members of TVXQ.

To become the wind and go forth
Fly to a world with you in it right now
Just to see you, just to see you
Please don’t forget, I’m waiting for you
Please don’t forget, I am here
(Wasurenaide – Tohoshinki)

I woke up that morning as I felt the rays of sunshine through the glass window in my room. I stretched my body and felt that I had a good sleep for these few days. Yeah, I could say it that way because I didn’t have a good sleep since Yunho broke our relationship up.
I took my way to kitchen and decided to make a breakfast after taking a long time shower. I poured milk into a bowl of cereal. Before I took a spoon and started to eat it, my door bell rang. I remembered Junsu will come over, because he just sent me a text message a while ago. I opened the front door and found Junsu smile widely.
“Come in. What made you come here in this early morning?” I asked as he came into my apartment.
“Just want to see you, hyung. You know I’ll be busy in the noon.” He said.
“Oh, has packed already?” he asked as he saw my luggage in front of my bedroom door.
“Yeah, I’ll leave tomorrow.” Tomorrow I’m gonna go to Thailand to prepare a concert there and gonna have some schedules there.
We sat on the sofa in the living room. Suddenly Junsu chuckled and I just frowned while looking at him, had no idea. “You’re just like someone who flees from his lover, hyung.”
“What? Flee? Me???” my cheeks turned red I guessed, since Junsu mentioned ‘his lover’ and my mind just imagined Yunho’s smiling face. “Why must I?”I asked but more to whispered to myself.
“Because you know that tomorrow the full version MV will release.” Junsu laughed. “THAT MV which HE will have a passionate kiss scene with Go Ara.” He stated it clearly.
“WHAT???” I stood up suddenly.
“A kiss scene, Jae hyung.” He pointed his lips then smiled. But how come he smile like that while his hyung – me! – is almost having heart attack because of his news?
“But… but… Changmin never say that. He will inform me about something as important as that,” I looked at Junsu. I wasn’t sure, but a half of me was worrying that.
“Yes, Changmin didn’t inform you, but he informed me.”
I just looked at the floor now. I know it’s only for his work and indeed he must be professional, right? It’s only acting and… Ara is only his best friend. Why must I worry about that?
Is it because… I’m missing him so bad? So I got jealous easily?
“Want to book a flight to Thailand earlier?” Junsu asked as he smirked to me. I pouted knowing he was teasing me. I shook my head lightly.
“Oh! I got to go now, hyung. See ya in Thailand!”
“Huh? So what’s his purpose coming here in the first place? Just informed me about the kissing scene?” I frowned.

I had an event to attend tonight so I prepared it. And oh my God, why did my mind always think about that?? I hated to think, to imagine about that again. I saw Before U Go full version MV yesterday. Why must that Ara girl had to kiss my OH-SO-DAMN-HANDSOME Yunho? Okay, MY oh-so-damn-handsome Yunho. I was so pissed, I know. I should always tell myself ‘That’s only for his work, Kim Jaejoong’.
And Kim Junsu, you’re dead soon! I thought Yunho will really have a passionate kiss scene! But glad to know that’s just a kiss on the cheek, hahaha!
Now I was in the waiting room just finished my make up. Someone opened the door. “Jaejoong-ah, the show will start in 20 minutes. I wait for you behind the stage in 10 minutes, okay?” my manager asked.
“Ne, hyung.” I said as I nodded. He then closed the door again. A few minutes after that, someone opened the door again. I thought he was my manager, but he’s a staff. He bowed me, and I just nodded my head.
“Mr. Kim Jaejoong?” he asked.
“Yes.” I thought he will just ask me to go to behind the stage to prepare.
“This…” he said it in English. Maybe he wanted to say something in English because maybe he didn’t know any Korean. He handed me a piece of paper then bowed and closed the door again. I was stood dumbfounded.
I unfolded the paper and read some words written there. It’s Hangeul. ‘Come to the toilet’. I looked at the clock in the wall, five minutes again I have to go to prepare for the show. I bit my lower lip, hesitated whether just go or not. We didn’t know what will happen if I do what has instructed in the piece of paper, right? But I had a feeling to just go as instructed.
I opened the male toilet door and found no one there. I came in and saw that one of the stall is closed. Honestly I’m afraid what will happen next, but I just curious so I walked closer. After I stood up in front of the closed stall, I heard a click sound, maybe someone inside just unlocked the door. I stepped back but it was too late. Someone pulled me inside the stall again and locked the door! When I was to shout, his hand covered my mouth and another one was in my waist, he was hugging me from behind.
“Mmmm!!!” I widened my eyes knowing I’m in a danger. I struggled but he was too strong.
“Sssstt! It’s me!” he whispered.
I stopped struggling. I sniffed to make sure that it was a smell that I used to know and I always loved this smell. He let me go but I froze and turned back slowly. He took off his dark glasses and his mouth mask, and then his oh-so-damn-handsome face was revealed. Again, I widened my eyes to the fullest. I was speechless.

This heart that is headed for you, it seems, can’t be turned away from you,
Like my intended promise headed towards you.
(Gravity – Fly To The Sky)

“Hi Jae! Why so bright?” he frowned as caressing my hair. Then he smiled to me. A smile to die for, for God’s sake!
“Y-Y-Yun…” I stuttered. I don’t expect to meet him now. Just… hey, I’m on my schedule, in Thailand, and I bet he’s also busy because his MV just released.
He hugged me tightly. “I missed you.”
“I missed you too…” I said as I hugged him back but still couldn’t believe that he is that Jung Yunho, the love of my life.
He pulled off from the hug and looked up to my face and smiled again. I can’t not to smile because of his smile.
“How… can you be here?” I circled my arms around his waist.
He frowned but then smiled again. “Why are you like this?” he asked as he tapped me on my shoulders. “We have broken up, right?” he asked softly.
I pouted then looked away, but my arms still in his waist. “But… I asked Changmin to deliver my message to you,” I said, still didn’t want to see his face. How come he said like that?
“No. Changmin didn’t tell me anything.”
I looked at him and pulled off my arms from his waist. “What?”
“I came here just because I don’t want you to get misunderstanding because of my new released MV,” he smiled.
“What… what’s the point? We… we… have no… relationship.” I looked away again, hoping he couldn’t saw my now teary eyes.
“Hahaha… you’re so cute, Jae.” He laughed and pinched my cheeks. I glared at him.
“Then we will start a new relationship.” He said as he took my right hand and put in a ring to my ring finger.
I looked down to see a ring in my finger then I looked up to see right into his eyes. His eyes that always reflected his love, for me. I just kept silent while looking at his eyes.
“Changmin, Junsu, and Yoochun told me –no, they scolded me– that I was wrong. And they said I’m a bastard because of what I’ve done. Even though I said I did it for JYJ but they didn’t agree. Now, you will scold me to, huh? You will call me bastard too?” now he circled his arms around my waist. I just smiled with his acts and cute expression.
I hit his chest lightly, “You mean!” I pouted.
“I know. I’m stupid? Yes, just as you are, Kim Jaejoong.”
I giggled at his cute expression.
“Kim Jaejoong! Are you here??” I almost jumped. It was my manager. I know he was looking for me and now he opened the toilet door.
I looked at Yunho and signaling him to keep quiet. I came out from the stall and found my manager’s worried face.
“Ah, you’re here. Come on.”
“I… I’m sorry hyung. I… go now.” I wasn’t sure because I wanted to say goodbye first to Yunho, at least.
I got out of the toilet, but still I felt something left behind.
“Hyung…” I tugged his sleeve. “A… a minute… you go first. I’ll back in one minute, hyung.” Manager hyung just looked at me confusedly. But before he asked a question I rushed to toilet again.

To me you’re like the unavoidable gravity.
(Gravity – Fly To The Sky)

I almost bumped into Yunho when I ran into the toilet. As I realized that he’s Yunho, I hugged him. “I’m sorry, I have to go.”
He hugged me back, “It’s okay. I have to go too. I’ll be back to Korea now.”
“Now??” I pulled off.
“Yes.” He smiled. “Jae, I’m sorry for what I’ve done. I know our relationship is difficult. But we will face it together, right?”
I nodded. “I don’t wanna be with someone else but you. I can’t. Because all of my heart is just for you and no matter what my heart will always goes to you.”
“So, nothing will be hidden from each other from now on and we will always keep the faith in each other. Deal?”
“Deal!”
He hugged me again, “We will talk about it again when both of us in Korea. Don’t forget to keep it as secret, okay?” he commanded me with his stern voice. I felt like having a leader again.
I nodded and smiled.
“Thank you… my precious, Jae.”
I smiled as he said that.
“I have to go now, Yunho.”
“Wait!” he pulled my arm. And quickly he kissed my forehead. I felt my cheeks warmer and slowly my lips curved a smile. “Good luck, honey!”
I nodded and went out to behind the stage before my manager came to see me. I was so happy.

Seoul, South Korea.
Finally I came back to Korea after a few days I spent in Thailand. Now, everything’s clear. Yunho and I kept our relationship as a secret. As he said, our love is difficult, but we would always fight for our love and our beloved group. I hoped TVXQ will comeback again with its 5 members, Yunho, Yoochun, Junsu, Changmin and me, as soon as possible. That’s why… we must always… keep the faith!

“We believe that we can laugh together with you once again.”

A/N: I’m sorry for the bad ending *deep bow* but at least I made it happy ending xD. Thanks for all the readers ^^ see you in my next YunJae fanfic (LOL, yes, I’m making another fanfic :D )

it’s sooooo random….

When I saw Yunho’s pic for KYHD repackaged album, I just thought “ah! it has same pose with a JJ’s pic in Intermodulation!”

so… I just want to edit those pic… I know I’m bad in photoshoping~ so it’s only a simple pic ^^

but… I love this xD *ohh my naughty mind…*

awww pervy meee……. >.<

it’s NOT MY FAULT that they had a same pose… not to mention their hotness…. :P

 

 

The Kooky Me

kooky posts

Blog Stats

  • 2,612 hits

My Twitter

  • "yeongwonhi." in H.O.T's last concert T.T 10 minutes ago
  • Unni slalu bikin karakter macem2 buat Yoochun, semua sempurna. dan aku? aku malah ancurin Chun T.T gay, crossdresser, preg, devil *sighs* 11 hours ago
  • Old Skool Love - Rising Sun - A Man In Love. Lagu2 itu berasa banget satu line nya -_-" 23 hours ago
  • gak peduli deh ya sama penyanyi2 legendaris macem Whitney or MJ, tapi ya Allah, kenapa harus ciptain suara punya Park Yoochun??? ;A; 1 day ago
  • kenapa ulang tahun Changmin gak pas di Fukuoka?? :(( 5 days ago
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.